KAMUKA PARWATA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA (KAPA FTUI )

KECINTAALAMAN DAN LINGKUNGAN HIDUP Disini dapat anda baca tulisan-tulisan mengenai cerita perjalanan, keindahan tempat-tempat wisata dan lingkungan hidup

Monday, October 03, 2005

CICATIH ADVENTURE RAFTING 2005

Penarikan minat divisi ORA diadakan di sungai Cicatih tanggal sanpai 6 aret. Jumlah peserta yang ikut 24 orang, yang terdiri dari 16 anak KAPA, 5 orang anak teknik dan 3 orang alumni yang akan menyusul. Dalam pengarungan ini yang ditunjuk menjadi karom adalah Fauzi.

Keberangkatan direncanakan hari Jumat jam 7 malam tetapi karena ada masalah dalam pencarian alat transportasi maka keberangkatan tertunda. Akhirnya setelah acara pelepasan, rombongan berangkat jam setengah 12 malam menggunakan 2 mobil. Perjalanan ke Cicatih memakan waktu 2,5 jam sehingga rombongan sampai ke basecamp jam 2 pagi. Sesampainya di sana peserta dipersilakan memakan konsumsi yang dibagikan panitia kemudian diadakan evaluasi keberangkatan, review perencanaan dan pembagian tugas yang memakan waktu cukup lama sehingga peserta baru tidur jam 4 pagi dan harus bangun jam 6. Pengarungan dibagi menjadi 2 trip. Pada saat rombongan trip 1 sudah bersiap siap menuju starting point, karom mengadakan perubahan. Trip 1 ditukar menjadi trip 2 dengan alasan alumni yang ada di trip 2 ada urusan lain di sore hari jadi harus segera kembali ke Jakarta seusai pengarungan. Keputusan ini agak mengecewakan peserta trip 1 yang sudah bersiap – siap untuk melakukan pengarungan.

Trip 1 direncanakan berangkat ke starting point jam stengah 9 akan tetapi karena ada sedikit masalah dalam penyewaan alat, trip 1 baru berangkat jam 9. Sedangkan penyewaan alat akhirnya menggunakan jasa dari Riam Jeram.

Berdasarkan perencanaan pengarungan akan menggunakan 2 perahu namun alumni menyewa 1 perahu lagi untuk rescue sehingga trip 1 terdiri dari 12 orang plus 4 orang guard dengan komposisi; perahu 1 (perahu kapa) 6 orang peserta, perahu 2 terdiri dari 6 peserta plus 1 guard, dan perahu 3 terdiri dari 3 orang guard Trip 1 selesai pengarungan jam 12 dan kembali ke basecamp. Pada saat itu cuaca tidak begitu baik, tiba – tiba turun hujan sehingga membuat peserta trip 2 khawatir pengarungan tidak dapat dilaksanakan. Ternyata hujan hanya turun sesaat. Trip 2 pun berangkat ke starting point setelah sebelumnya makan siang. Trip 2 berangkat ke starting point pada pukul 14:00, perjalanan ke starting point menggunakan 2 mobil pick-up, perjalanan ini memakan waktu selama 45 menit. Sesampainya di starting point perahu karet merah segera dipompa dengan blower sementara dua buah perahu lainya yang akan dipakai untuk pengarungan telah dipompa. Trip 2 terdiri dari 18 orang peserta dan 3 guard yang dibagi rata pada 3 perahu. Karena pengarungan menggunakan 3 perahu maka beberapa peserta trip 1 ikut lagi dalam pengarungan sebagai tim rescue dimana tim ini juga berfungsi sebagai tim dokumentasi. Tiap perahu mampu menampung 7 orang, dengan komposisi 6 orang peserta dan satu orang guard.

Tidak seperti pada trip 1, cuaca kali ini cukup bersahabat hanya saja arus aliran sungai terlihat sedikit lebih deras dari sebelumnya. Trip 2 berangkat pada pukul 15:00. Diawal pengarungan trip 2 ini disampaikan materi-materi berupa dayung maju, dayung mundur, C-stroke, J-stroke, rescue, dll. Selama pengarungan baik trip 1 maupun trip 2 dilakukan pergantian driver yang dimaksudkan sebagai pelatihan kepada para peserta. Untuk beberapa jeram yang terbilang sulit, driver dipegang oleh guard. Pada pengarungan para peserta terlihat antusias sementara beberapa lainnya terlihat raut kecemasan.

Sungai Cicatih merupakan tipikal sungai pada umumnya di Jawa, air sungai terlihat coklat keruh karena bercampur dengan tanah. Sungai Cicatih memiliki cukup banyak jeram namun hanya 20 jeram yang akan diarungi peserta.

Pengarungan berjalan tanpa hambatan yang berarti hingga pada jeram kerinduan terjadi flip pada perahu kedua yang saat itu berada pada posisi paling belakang. Setelah guard berhasil mengembalikan posisi perahu, peserta di perahu yang terbalik berusaha menyelamatkan diri dengan menaiki perahu kembali, beberapa diantaranya yang telah terbawa arus ditolong oleh perahu di depannya yang juga berusaha mengumpulkan dayung-dayung yang tercecer. Karena kejadian ini sebuah dayung milik Riam Jeram patah. Pengarungan kembali berjalan normal, peserta dari perahu dua yang menumpang di perahu lain kembali ke tempat semula, hanya saja pada trip 2 ini tidak ada istirahat sebagaimana halnya pada trip 1. Pengarungan berakhir pada pukul 17:00. Setelah packing perahu, para peserta dibawa kembali menuju base camp, tiba pada pukul 18:00.

Perjalanan pulang dari base camp menuju teknik pada pukul 19:00 sesuai jadwal, setelah sebelumnya para peserta diberi kesempatan untuk berkemas, shalat dan makan malam. Perjalanan kembali ke teknik tiba pada pukul 11:00 yang langsung dilanjutkan dengan evaluasi kegiatan di sekret KAPA.

PENGARUNGAN SUNGAI CITARIK

Tepatnya tanggal 2 November 2002, kami berdelapan yaitu Saya (Dwi Setyo), Amrul Indra, Yasin Zaidun, Emilius Sudirjo, Dimas, Kemal Arthur, Robby Suhendra dan Wicaksono mengarungi sungai Citarik yang bertempat di Sukabumi. Ini merupakan perjalanan aspiratif dari anak ORAD KAPA FTUI untuk mengisi waktu luang pada hari Sabtu Minggu. Pada hari Sabtu juga bertepatan dengan Malam Keakraban jurusan yang diadakan oleh anak baru angkatan 2002. Rencananya setelah melakukan pengarungan kami akan mengunjungi acara tersebut. Yang menjadi Karom (ketua rombongan) perjalanan kali ini adalah Amrul Indra dan Koordinator SAR-nya Haryo Ramadhani.

Rencananya kami berangkat pukul 19.00 WIB tapi karena menunggu yang lainnya datang jadi berangkat pukul 19.27 WIB. Sebelumnya kami melakukan pelepasan yang sudah merupakan tradisi dari anak KAPA sendiri untuk menjaga kekompakan tim dan supaya anak KAPA lainnya tahu. Dengan bermodalkan daypack yang berisi baju, kaos ganti dan makanan kecil kami pun berangkat menuju ke sungai Citarik. Kami jalan dari kampus menuju stasiun UI dan sampai di stasiun UI pukul 20.00 WIB. Kereta ke Bogor penuh dengan kerumunan orang yang baru balik dari kerja. Kami sempat bergelantungan di kereta karena sesaknya kereta. Pukul 20.36 WIB sampailah kami di stasiun Bogor. Perjalanan dilanjutkan dengan naik angkot warna hijau ke Baranangsiang dan dari Baranangsiang ke Cibadak naik colt. Tarif angkot ke Baranangsiang adalah Rp1500 per orang dan ke Cibadak Rp4000 per orang.

Di depan pasar Cibadak, tepatnya pukul 22.15 WIB kami menunggu angkot yang akan mengantarkan kami ke Citarik. Tapi kondisi perut pasukan pada waktu itu sudah berbunyi untuk makan. Mampirlah kami ke warung Padang yang tidak jauh tempatnya di tempat kami menunggu angkot. Ada cerita lucu, pada waktu itu kami harus hemat duit makanya makannya jangan terlalu mahal. Si Amrul membeli makanan pake telur dan sayur semuanya Rp3500, lalu setelah itu telurnya habis dan mau ga mau harus pake lauk yang lain. Yang lain akhirnya makan memakai ikan. Akhirnya dibayar habis Rp34.500, Si Amrul ngomel-ngomel karena dia makan pake telur dan lainnya pake ikan. Setelah perut terisi semua kami menunggu angkot tapi kata orang angkot yang menuju ke Cikidang kalau malam sudah tidak ada. Yang ada hanya ojek yang bertarif Rp35.000 per orang dan carter angkot bertarif Rp10.000 per orang. Dan diputuskan untuk carter angkot aja habis lebih murah sih. Kalau pagi hari angkotnya hanya Rp5000 per orang. Pukul 1.30 WIB sampailah kami di Cikidang. Lalu kami mencari tempat untuk santai dan evaluasi perjalanan. Eh... ada orang yang meminta charge keamanan karena daerah disitu tidak aman. Orang tersebut meminta Rp50.000 untuk chargenya. Setelah dinego ternyata tidak dapat dan akhirnya uang Rp50.000 kami melayang ke pangkuan tukang palak. Kami semua kesel, kami lagi hemat duit malah ada yang meminta duit. Kami ke tempat BJ’s terlebih dulu untuk mencari tempat istirahat dan silaturahmi. Di tempat ini kami menyewa perahu untuk pengarungan. Setelah bercanda-canda dengan operator kami pun melakukan evaluasi perencanaan dan istirahat.

PENGARUNGAN

Pagi pun tiba, perencanaan bangunnya pukul 06.00 WIB tapi kenyataannya bangun pagi pukul 07.15. Kami pun bangun dan melakukan persiapan untuk pengarungan. Setelah siap-siap pukul 08.03 WIB kami mengisi perut kami dengan menu telur dan sayur. Setelah makan, kami santai sebentar dan ngobrol ama operator BJ’s. Pengarungan dibagi 2 shift, shift 1 adalah Emil, Wicak, Yasin dan Kemal sedangkan shift 2 Dimas, Robby, Amrul dan saya. Perencanaan awal perahu yang disewa hanya satu tetapi karena dari BJ’s nya tidak membolehkan turun satu perahu untuk safety procedure, oleh karena itu kami pun menyewa 2 perahu sekaligus dengan tarif tambahan Rp100.000 sehingga biaya sewa perahu Rp350.000. Kondisi air saat itu normal kata operatornya sih 90. Padahal seminggu sebelumnya itu kering karena tidak ada hujan yang turun. Jadi turunnya hujan bisa menyebabkan kenaikan grade sungai. Kami hanya akan melewati 12 jeram dan tidak sampai ke Pelabuhan Ratu karena pihak operatornya belum survey sehingga tidak dapat melakukan pengarungan ke Pelabuhan Ratu. Kami kecewa karena jeram yang bagus padahal di Pelabuhan Ratu.

Pukul 09.30, kami pun melakukan persiapan pengarungan. Memakai baju lengan panjang, pelampung di dada, helm dan dayung. Sebelum melakukan pengarungan kami diajarkan cara-cara mendayung, self resue dan tim rescue. Operatornya menjelaskan dengan cepat sekali. Sebelum melakukan pengarungan kami melakukan yel KAPA. Setelah operatornya menjelaskan kepada kami, kami disuruh masuk ke dalam perahu karet dan mempraktekkan dayung maju mundur, lalu pindah kanan kiri. Semuanya tampak begitu gembira diiringi dengan suara jeritan jeram yang memanggil-manggil. Tidak lama kemudian berangkatlah kami menuju jeram-jeram Citarik. Dalam perjalanan kami mendokumentasikan jeram-jeram yang kami lalui. Kami bergantian memotret dengan cara bergantian di depan dan di belakang. Operatornya sangat jago dalam mengarahkan perahunya. Pada waktu mau masuk jeram perahunya dibalikkan sehingga kita tidak dapat melihat ke depan, lalu ByuRR…ternyata jeramnya sangat tinggi. Kami sempat jungkir balik di dalam perahu. Robby hampir jatuh waktu itu dan menimpa saya. Tapi untung tidak jatuh karena kalau jatuh di depan kita juga ada jeram yang tidak kalah hebatnya.

Ahh….ah… itulah teriakan yang kami dengar ketika kami istirahat. Para wisatawan juga banyak mendatangi tempat ini. Enam jeram sudah kami lewati dan baju kami pun basah kuyup. Kami istirahat sebentar sambil memandangi pemandangan sekitar. Saya, Robby dan Dimas mencoba berenang di jeram sambil menunggu anak-anak lainnya istirahat. Gimana rasanya ya?? Aduh… au… oh… itulah suara yang saya keluarkan waktu berenang di jeram. Ternyata berenang di jeram sakit banget karena tidak tahu posisi batu yang ada di dalam jeram sehingga waktu terbawa arus bagian punggung terkena batu. Hasilnya kaki saya agak memar terkena batu. Selain itu kita juga belajar tim rescue yang menolong temen yang jatuh ke air. Ternyata berat juga mengangkat orang ya.

Setelah itu perjalanan dilanjutkan kembali, Amrul sebagai karom meminta agar anak-anak lainnya ikut merasakan nge-drive tapi waktu itu tidak dibolehkan ama operator yang di perahu Emil, maksudnya tidak sekarang tetapi di jeram ketiga terakhir. Setelah kita melewati jeram keempat, kami pun mencoba menjadi seorang driver. Giliran pertama yang mendapat kehormatan untuk nge-drive adalah Amrul. Amrul dengan celana ketat birunya mulai menunjukkan aksinya. Dia banyak sekali melakukan kesalahan, di setiap jeram nyangkut. Tapi menurut saya dia lumayan. Giliran kedua Robby. Robby juga baru belajar nge-drive sehingga agak aneh. Dia nge-drive seperti dia dayung di depan. Dayung drivernya diangkat terus padahal dayung tersebut tidak boleh diatas air dan fungsinya driver untuk mengarahkan laju perahu, untuk menjalankan perahu suruh anak buah yang disamping untuk mendayung. Giliran berikutnya Dimas. Sepertinya sama aja seperti Robby tapi dayung dia tetap ada dalam air. Giliannya terakhir adalah saya. Wah… bagaimana ceritainnya ya? Malu nih karena selama saya nge-drive perahunya nyangkut melulu, teorinya sudah benar hanya mengarahkan perahunya aja kurang bener, mungkin perlu jam terbang agar jago. Selain itu kita harus pintar-pintar membaca arus sehingga dapat memprediksi kemana perahu ini akan mengalir. Kalau di tim Emil, Yasin, Wicak dan Kemal, katanya yang jago Emil. Dia bisa membaca arus sehingga dengan mudah mengarahkan perahu.

Dua belas jeram sudah kami lewati dan garis finish pun sudah tampak. Kami pun sedikit merasa kecewa karena kesenangannya hanya sebentar padahal kita masih pengen terus. Panas terik matahari menemani kita sampai ke garis finish. Setelah keluar dari perahu kami pun foto-foto ria. Kami foto bersama operator BJ’s. Setelah kami foto-foto kami pun jalan melewati pematang sawah menuju jemputan yang mengantarkan kami ke tempat semula. Naik mobil lebih berasa jeram daripada naik perahu karet, anak-anak menamakannya jeram darat. Tapi pantat dan punggung sakit semua kerena jalannya berlubang.

Tepat pukul 12.10 WIB kami pun sampai di BJ’s Rafting. Setelah sampai disana kami santai sebentar, serokok dua rokok dan kartu gaplek menemani istirahat siang kami. Lalu kami pun mandi setelah melihat kamar mandi kosong dan persiapan untuk ke Puncak. Setelah mandi, rencananya kami menyewa angkot yang mengantarkan kami malam kemarin dan janji datang jam 5 sore. Daripada lama-lama di BJ’s, kami mencari alternative angkot yang lain ternyata dapatnya pick up, yang akan mengantarkan kami sampai terminal Cibadak, anggarannya Rp65.000. Karena kekurangan dana kami pun tidak makan siang dan berharap dapat makanan di MK jurusan. Setelah sampai di terminal Cibadak kami naik bus ke Ciawi dan dari Ciawi naik angkot ke Puncak. Kami sampai di Ciawi pukul 18.30 WIB. Perjalanan ke Ciawi lama sekali karena jalannya macet, perut kami sudah keroncongan dan minta diisi untuk itu kami harus cepet-cepet ke Puncak. Itulah cerita perjalanan aspiratif kami ke Sungai Citarik.Dwi S H S /K-242-02



Cerita dari Gunung Perbakti

Tepat pada tanggal 12 Maret 2004 jam 8 malam, anak-anak KAPA FTUI yang beranggotakan 13 orang semuanya laki-laki terdiri dari 7 orang anggota baru dan 6 orang anggota lama bersiap-siap menuju wilayah operasional penarikan minat Divisi Gunung Hutan. Daerah operasional ini bertempat di Gunung Perbakti di Jawa Barat. Tempat ini berubah dari rencana semula yaitu Gunung Halimun, namun semangat dalam mencari pangalaman baru takkan pernah surut.

Pemberangkatan dimulai dari sekretariat KAPA FTUI di gedung Pusgiwa FTUI lantai 2. Jam 9 bergerak menuju stasiun UI menuju bogor dan dilanjutkan menuju Sukabumi. Pada malam sabtu rombongan yang dipimpin oleh kadiv GH, Satria ,menginap tidur dengan mewahnya di kantor kecamatan. Setelah evaluasi maka tertidurlah dengan nyenyaknya di halaman kantor Kecamatan itu. Pagi harinya bangun tepat jam 4.30 oleh PJ bangun yang waktu itu kebetulan di”jabat” oleh Desmond Anderson. Setelah packing dan bersiap-siap, meneruskan perjalanan menuju stating point. Disana tidak lupa shalat dan kemudian makan pagi yang telah disiapkan oleh PJ makan pagi, Au dan Orvel. Setelah tiba di stating point, ada pemberian materi kepada anggota baru mengenai Navdar Ormed, navigasi darat dan orientasi medan. Tidak lupa juga mengisi air untuk perjalanan. Dan dimulailah perjalanan Gunung Hutan ini.

Dalam perjalanan anggota yang terdepan adalah Emil dan yang terbelakang adalah ketua rombongan. Pada awal perjalanan sempat beberapa kali tersesat, tetapi bisa diatasi. Dan sebelum jam 12 atau masanya kami beristirahat, turunlah hujan, perjalanan tetap dilanjutkan dengan mengenakan raincoat ataupun ponco. Barulah sekitar jam 12 beristirahat, membuat flying sheet dan memasak. PJ makan siang waktu itu adalah Emil, Fitra, dan Eca. Menu makanan gunung ini lebih mewah dari menu makanan ketika kami makan di kosan. Bisa dibilang 4 sehat 5 sempurna. Antara lain ada sosis, bakso, cumi-cumi, dan sayur-sayuran. Dan minumannya pun susu cokelat. Setelah makan, beristirahat. Ada yang nungguin sms dari seseorang yang spesial, ngerokok, ngemil, dan PJ makannya bersih-bersih.

Pergerakan berikutnya dihiasi dengan berbagai cerita yang lebih menarik. Ada persteruan antara Au, Desmond, dan Arif “ojek”. Selain itu ada juga Yasin yang berubah jadi “batman” dengan ponconya yang berwarna merah dan dengan penuh semangat berjalan melompat-lompat. Hujan tak kunjung reda hingga sore namun semangat tetap takkan pernah luntur, menuju puncak gunung Perbakti. Dan sebelum maghrib tepatnya jam 5.30 sampailah di puncak gunung yang diimpikan, ngecamp beberapa meter dibawah puncak. Semuanya bergerak, Fauzan dan Satria membangun tenda, Fitrah, Jabbar, dan Eca juga membangun tenda. Emil membangun Flying Sheet. Yasin bersaudara dan Arif mempersiapkan makan malam. Au dan Ipul membuat api walaupun akhirnya gagal. Yang lain membantu dan ganti pakaian. Semuanya membangun camp yang ternyaman untuk menginap malam itu. Setelah semuanya beres, waktunya mengisi perut...sekali lagi dengan menu yang sangat lezat dan dapat menambah berat badan, anggota yang sedang tidur karena kelelahan dibangunkan. Sehabis makan, evaluasi dilakukan kembali seperti sebelumnya.

Makan malam dan valuasi telah usai dan tentunya diiringi dengan rasa kantuk yang luar biasa...tapi justru inilah yang menyenangkan dari perjalanan ini, saat bermalam ditengah hutan belantara di puncak gunung kita saling berbagi cerita dan pengalaman, mengeluarkan isi hati, dan mengenang masa PAB yang begitu indah. Lambat laun rasa kantuk tak tertahan lagi meskipun tidak ingin kehilangan malam yang indah itu....

PJ bangun, Eca melaksanakan tugasnya dipagi itu, menghentikan semua mimpi indah yang tersusun sejak malam. Yah, saatnya bergerak kembali menuruni gunung. Makan pagi terhidang dan dalam sekejap juga semuanya habis. Sebelum jam 9 packing dan foto-foto. Jam 9 pergerakan turun gunung menuju kawah ratu. Jalanan menurun dan trek licin sehabis hujan, sebelum jam 1 kami sampai di kawah ratu, hujan turun tidak lebat. Emil membuat flying shet dibawahnya PJ sibuk mempersiapkan makan siang, disela-sela siang itu setiap anggota membuat foto diri masing-masing. Habis makan cuci piring, dan peralatan lainnya, diperkirakan dalam 2 jam rombongan akan tiba di kaki gunung. Jalan penuh semangat, jalanan pulang anggota ada yang saling bertukaran carier. Diakhir perjalanan, beberapa meter sebelum menuju jalan raya, saatnya bersih-bersih. Beberapa diantaranya berganti wujud seolah tidak pernah berkotor-kotor.

Sampai dibawah, beristirahat dan menunggu datangnya mobil “jemputan”. Sampai di stasiun Bogor jam 8 malam, naik kereta. Didalam kereta makan tahu sumedang dan jambu klutuk, akhirnya sampai di UI jam 9 malam. Menuju sekret dan evaluasi. Besoknya saat menyuci peralatan.

CP MP CAVING GUNUNG KIDUL

Pagi yang cerah... tim MP Caving udah kumpul disekret buat dilepas. Semuanya lengkap kecuali Opung karena dia langsung ke stasiun kota. Sedangkan Joe ga jadi ikut coz ga diizinin ma nyokapnya. Padahal dari awl dia yang nyiap-nyiapin semuanya. Tapi ya udahlah mo gimane lagi. Akhirnya Cuma bertujuh n Didi jadi Kaops gantiin Joe, truz Wenpi, Ipul, Ojek , Agus, Ijir, n gw sendiri dilepas bareng-bareng ma anak RC. Kita berangkat bareng coz Mp nya sama-sama di JOGJA. Dari kampus naek bikun, eh ternyata si Opung malah nunggu di St. UI.

Setelah ditunggu-tunggu akhirnya keretapun datang. Gw hampir aja ketinggalan kalo ga didorong ma Ipul. Setelah sampe St. Kota kita berhitung, n ternyata jumlahnya cuma 11. nah lho???? Kan harusnya 13, coz anak Rc ada 5 orang. Ye....ternyata si Ijir n Didi ketinggalan KRL. Padahal dah pukul stgh 12. kereta GBM Selatan yang mo kita naekin jalan jam 11.45. kita masih punya harapan. Pas kereta GBM Selatan mo jalan 5 menit lagi ada KRL dateng. Si Ipul langsung beli GBMS. Tapi.... baru aja Ipul nyampe kereta dah jalan. Yach ketinggalan.!! Lagian setelah dicari-cari Ijir n Didi ga ada di KRL. So gimana nich..?? untungnya ticket bisa dibalikin.

Drrrrtt.....drrrrtt ada yang getar nih di saku.. oh ternyata si Ijir nelpon. Dia udah diatas kereta GBMS!!! Karena kita ga naek akhirnya dia turun di St. Senen n kita semua nyusul kesana. Sampe Senen bingung mao gimana? Pulng n berangkat besok, ato naek Progo yang berangkat jam 9 malem dengan biaya yang lebih mahal? Akhirnya diputusin buat berangkat hari ini juga. Trus ngapain seharian di Senen..?? akhirnya ada yang tidur-tiduran, truz ada yang maen kartu. Dan yang paling kocak si Opung beli komik paman Gober. Lumayan ilang deh Bt nya.

Tik...tik...tik...lama banget jarum jamnya bergerak. Akhirnya kereta yang ditunggu-tunggupun dateng n semuanya naek. Untung ga da yang ketinggalan lagi. Gw langsung pasang posisi tidur, n untungnya kereta ga penuh so bisa pindah-pindah tempat duduk.

Zzzzz... eh bangun!!! bangun!!! Udah nyampe! Oh...pagi yang cerah di Jogja. Habis sarapan di tempat pakde kita langsung jalan ke ASC.kita sempet nyasar coz ga da yang tau dimana ASC. Anak RC sich enak..dijemput ma Cpnya dari Hi Camp. Begitu sampe disana kita ngobrol-ngobrol bentar coz anak-anak ASCjuga lagi pada sibuk. Mereka ada acara di Gombong. Anak-anaknya itu bener-bener “sunyi, sepi, abadi” sesuai namanya yaitu Acintacunyata Speleologi Club. Seharian itu kita bagi-bagi tugas. Gw ma Ijir belanja, Didi pijem alat, dan yang laen nunggu di Sekret ASC. Malemnya istirahat full bis evaluasi tentunya.

Pagi ini kita melanjutkan perjalanan ke Wonosari. Kita dianterin ma Remon anak ASC. Tempat yang kita tuju yaitu kecamatan Ponjong. Bener-bener desa yang panas!! Habis Sosped sorenya kita langsung berangkat ke Gua Telogo. Di gua ini kita mapping. Gua Telogo ini termasuk jenis gua yang kering. Tapi itu karena lagi musim kemaraukali ya??sbernya sich ga kering-kering amat, masih ada lumpur di dalam gua-nya. Cuma di luar keliatan kering.

Besoknya kita ke gua Cokro namanya. Gua ini gua vertikal dengan kedalaman 19,10 m (ini karena reruntuhannya jadi gundukan so tambah jauh dari dasar sebenernya). Tapi di dalam guanya ada jalan horizontalnya juga. Disana kita ngplikasiin materi rigging. Kita juga explore dan mapping grade 2b. Guanya gede banget. Diujung gua ada “lapangan bolanya” loh. Trus besoknya kita simulasi vertikal rescue. Gila panas banget..!! mana gw rigging buat simulasi yg pertama lagi. Bayangin dari jam 10 ampe jam 2 di bawah teriknya matahari Gunung Kidul mana mulut gua vertikalnya berupa lubang yang ga da atapnya gitu. Ditambah lagi simulasi gw ga berhasil dengan sukses. Bener-bener hari yang berat.

Sebernya targetan MP sich udah tercapai, cuam karena ada lagi gua yang katanya menarik kita jadi pengen explore kesana, namanya gua Gremeng. Gua ini ntar tembus n nama tembusannya itu Gua Plarar. Gua Gremeng ini merupakan gua basah dimulutnya aja dah tergenang air, soalnya tempat aliran sungai bawah tanah. Biasanya penduduk suka mandi disini. Ampe-ampe gw “konservasi burung” lagi kya lagi MPLH. Kita jalan ngikutin aliran air. Tiba-tiba si Jekri nemuin cabang n coba nelusurin. Ternyata di ujung ada tetesan air dari atas, kaya air terjun gitu cuma kecil. Terus Wenpi bouldering n ngeliat ada lorong diatas air terjun tersebut. Tiba-tiba...boom.!!Ijir jatoh nimpa batu saat lagi bouldering pas Jekri lagi nelusurin lorong diatas. Truz Jekri buat footloop jadi semuanya bisa keatas ternyata dari lorong itu aa jalan keatas tembus keluar gua. Trus karena kita ga tau nama gua tembusannya itu, kita namain gua itu sebagai gua Ojek (tapi kita tau nama gua itu setelah balik ke Base camp).setelah istirahat cukup lama kita balik lagi kedalem gua. Kita ikutin jalur utama aliranya hingga nemuin semacam danau di dalem gua. Kita mao nyebranginnya, jadi semua pake cowstail dan yang terakhir bikin anchor. Ternyata baru setengah jalan kita semua kedinginan na akhirnya diputusin buat balik. Akhirnya kita semua kalah ma dinginnya air Gunung Kidul.

Hari berikutnya tinggal hari-hari santai. Kita semua pergi ke pantai Baron. Disana kita curhat-curhatan n crita-crita. Bener-bener pantai yang indah, karena di kedua sisi pantai tertutup bukit. Besok paginya kita balik lagi ke Jogja n jalan kaki sekitar 14 km-an malem harinya krn dah ga da angkot jam 7 ke atas. Tapi ga kerasa sich soalnya rame-rame, dah gitu gw jalannya berduaan lagi ma Wenpi. Hi..hi..

Pagi terakhir kita jalan-jalan ke kota Gede. Rencananya si Ojek mao nyari perak tapi ampe disono ga jadi beli, yach..akhirnya kita belanja di Malioboro aja deh. Tapi pada akhirnya kita mesti balik lagi ke Jakarta. Kita ke St. Lempuyangan sorenya n naik kereta yang jam 7. mana keretanya penuh lagi.untungnya ada ibu-ibu yang baik yang nawarin kita tempat duduk. Dan seperti biasa gw tidur ampe Jakarta.

Kalo pas berangkat kita telat karena ketinggalan kereta, pas pulang kita juga telat lagi. Pas kereta dah jalan lagi, gw ma Wenpi masih diatas kereta. Hikz..hikz...akhirnya gw jalan lagi lebih + 1km. Setelah sampe sekret, cape’ nya ilang semua.

Akhirnya.........

Cerita ini bukan fiktif belaka, kesamaan nama, tempat, dan kejadian bukan kebetulan

Depok, 1 Sept 2004

K-260-04

Perjalanan Caving Goa Keraton

Pada hari Jumat tanggal 29 November 2002 anggota KAPA jalan-jalan ke goa Keraton, Citeureup. Pada Pkl. 17.00 WIB mereka dilepas didepan sekretariat KAPA FTUI, yaitu Kemal, Aswin, Andreas, Berson dan juga Bayu Idiajir. Setelah dilepas mereka mulai berjalan kearah Gang Kober untuk mencari angkot menuju ke Pal, Lalu dari Pal mereka naik bus ke Citeureup, dan dari terminal Citeureup mereka naik ojek ke tajur. Di tajur mereka makan malam lalu setelah itu mereka mampir ke warung ‘ma untuk ngobrol-ngobrol dengan anak Linggih Alam.

Pada Pkl. 21.00 WIB mereka akan memulai penelusuran, mereka telah bersiap-siap dengan memakai hardness, helm, screw dan juga figure of eight. Mereka juga membawa seperangkat peralatan sebanyak 2 carier, peralatan tersebut antara lain tali karmantel statis, screw, snap, webbing, delta, dll. Penelusuran tersebut hanya diikuti oleh empat orang, karena kemal tidak membawa baju untuk penelusuran. Sebagai “tim darat” kemal hanya nongkrong di warung ‘ma sambil ngobrol-ngobrol dengan anak Linggih Alam.

Setelah selesai mempersiapkan peralatan, keempat orang tersebut mulai berjalan dari warung ‘ma menuju ke mulut gua, tetapi ditengah perjalanan mereka mulai kebingungan mencari mulut goa keraton, maklum saat itu sudah malam jadi agak sulit untuk mencari letak goa tersebut. Lalu akhirnya Andreas dan Berson pergi berdua untuk mencari mulut gua tersebut, sedangkan Aswin dan Bayu beristirahat ditengah jalan raya, sambil menunggu kedua teman mereka yang sedang mencari mulut gua tersebut.

Ditengah jalan raya mereka duduk memandangi cerahnya malam yang ditaburi oleh bintang-bintang sambil bercerita tentang pengalamannya masing-masing. Bayu banyak menceritakan tentang keinginan dia untuk mengikuti perjalanan-perjalanan operasional yang menarik seperti MPGH (Musim Pengembaraan Gunung Hutan) dan MPORA (Musim Pengembaraan Olah Raga Air), namun sayangnya dia sangat sulit untuk minta izin dari orang tua. Sambil mendengarkan cerita temannya Aswin menceritakan pengalamannya ketika mengikuti perjalanan-perjalanan operasional sambil berusaha memberikan solusi pada temannya tersebut.

Sementara kedua temannya beristirahat Berson dan Andreas terus berusaha mencari letak gua tersebut. Andreas yang sudah dua kali masuk ke gua keraton mulai penasaran karena setiap kali dia ingin masuk ke goa keraton dia selalu nyasar. Sementara itu Berson sebagai karom (ketua rombongan) mengikuti temannya tersebut dari belakang. Dengan terengah-engah dia mengikuti andreas yang berjalan sangat cepat. Pada akhirnya andreas teringat akan saung kecil, dia ingat betul bahwa gua tersebut dekat dengan saung. Setelah beberapa lama mencari akhirnya mereka menemukan sebuah mulut gua, dan andreas pun yakin bahwa itu adalah gua keraton. Berson diutus untuk memanggil kedua temannya yang lain dan setelah mereka berempat tiba di mulut gua mereka mulai menyalakan lampu badai dan meletakkan peralatan mereka diatas terpal, setelah itu mereka pun beristirahat sambil mengecek situasi gua tersebut.

Setelah melepas lelah andreas dan berson mulai masuk ke dalam gua Mereka berdua mencari jalan masuk kedalam gua. Setelah beberapa lama merekapun keluar, mereka terlihat panik dan kebingungan. Lalu bayu bertanya pada kedua temannya, ternyata mereka berdua tidak menemukan jalan masuk kedalam gua tersebut, lalu mereka mulai curiga mungkin mereka salah menemukan gua. Setelah berunding beberapa lama andreas dan berson memutuskan untuk kembali mencari goa keraton. Mereka mulai menelusuri seluruh tempat di punggungan tersebut. Sementara kedua temannya mencari, aswin dan bayu duduk di depan gua sambil menjaga peralatan mereka. Setelah mencari beberapa lama, berson dan andreas menemukan sebuah gua lain yang berada didekat tempat tersebut, lalu andreas masuk mengecek gua tersebut, namun sayangnya andreas sama sekali tidak mengenali gua tersebut, dan menurutnya itu juga bukan gua keraton.

Karena telah lama mencari dan mereka sudah sangat lelah mereka kembali menemui kedua temannya yang lain. Setelah menemui kedua temannya mereka beristirahat dan memakan makanan yang mereka bawa, saat itu sudah jam 2 pagi. Merekapun kembali berunding, Andreas menyarankan agar mereka beristirahat dahulu nanti setelah pagi tiba dia akan kembali mencari letak gua keraton. Menurutnya mereka telah salah mengambil punggungan sehingga mereka harus menunggu matahari tiba supaya bisa menemukan punggungan yang tepat. Namun karena bayu sedang berpuasa, ketiga rekannya menanyakan apakah dia masih dapat mengikuti penelusuran. Bayu menyanggupi akan ikut penelusuran walaupun dia tetap berpuasa. Lalu andreas mengusulkan agar mereka menginap satu malam lagi dan meneruskan penelusuran pada malam berikutnya, karena hari itu telah libur kuliah. Dia juga mengatakan bahwa dia telah membeli ayam bakar untuk dimakan bersama setelah selesai penelusuran. Bayu menolak usulan tersebut, karena dia hanya izin menginap satu malam pada orang tua dan dia harus pulang pada hari Sabtu. Akhirnya mereka sepakat untuk meneruskan penelusuran pada pagi hari saat matahari telah terbit, setelah itu merekapun tertidur diatas tanah didepan mulut gua.

Ketika matahari baru terbit, andreas cepat-cepat bangun, ia melihat alam sekitar, dan ia merasa yakin bahwa gua tersebut adalah gua keraton. Ia sendiri bingung kenapa semalam ia tidak dapat menemukan jalan masuk kedalam gua. Lalu ia memutuskan untuk mengecek kembali kedalam gua. Setelah beberapa lama ia memanggil berson untuk masuk kedalam gua, dan ternyata andreas menemukan jalam masuk kedalam gua, dan andreas meyakinkan teman-temannya yang lain bahwa gua tersebut adalah gua keraton. Mendengar hal tersebut teman-temannya kembali bersemangat, mereka langsung mengenakan peralatan mereka masing-masing. Setelah mereka semua siap melakukan penelusuran andreas menyarankan agar mereka terlebih dahulu berdoa bersama demi keselamatan tim dalam melakukan penelusuran.

Tepat pkl. 06.00 WIB peneluseran dimulai dari pitch pertama. Di pitch pertama ini kita dapat melihat sinar berwarna hijau, yaitu sinar matahari yang dipantulkan oleh pepohonan yang berada diatas gua. Berson sebagai “leader” bertugas untuk memasang anchor. Andreas sebagai “belayer” berjaga-jaga mengendalikan tali yang digunakan oleh leader, sementara aswin dan bayu memperhatikan pemasangan anchor. Anchor pengaman dipasang pada sebuah batu tembus, lalu setelah itu berson memasang empat anchor berikutnya. Setelah anchor terpasang lalu dihubungkan dengan tali karmantel, berson turun kebawah dengan menggunakan bobin. Setelah itu disusul oleh bayu yang turun dengan cara repling dengan menggunakan figur, berikutnya disusul oleh aswin dan andreas. Mereka semua turun sampai pitch kedua dengan jarak vertikal kira-kira 25 m.

Sampai di pitch kedua berson kembali memasang anchor pada batu tembus dan pada batu timbul. Pada pitch kedua ini sinar matahari masih dapat masuk kedalam gua. Setelah anchor terpasang mereka semua turun sampai pitch ketiga dengan jarak vertikal kira-kira 15 m. Diantara pitch kedua dan pitch ketiga terdapat susunan batu yang berbentuk seperti candi.

Setelah semua sampai di pitch ketiga, mereka masuk kedalam celah dimana didalam celah tersebut terdapat ruangan yang cukup besar berisikan ornamen-ornamen gua seperti stalaktit dan stalakmit. Dari dalam ruangan tersebut, yaitu pada bagian atasnya kita juga dapat melihat batu yang membentuk seperti tahta kerajaan. Didalam ruangan ini juga banyak terdapat tetesan air, sehingga jika hujan datang ruangan ini bisa dipenuhi air sampai ketinggian hampir 1m. Ketika berada di pitch ketiga mereka juga melihat binatang seperti musang, Musang tersebut muncul dari celah gua yang lainnya. Ada kemungkinan gua ini memiliki jalan tembus keluar sehingga musang dapat masuk. Pada pitch ketiga ini leader memasang anchor pada batu tembus dan juga terdapat stalaktit yang di bor sehingga dapat dibuat anchor pada stalaktit tersebut. Setelah anchor terpasang mereka semua turun sampai pitch empat dengan jarak vertikal kira-kira 10 m.

Pada pitch keempat ini suasana sangat gelap karena tidak ada sedikitpun cahaya yang dapat masuk. Setelah semuanya sampai di pitch keempat mereka terus turun melalui bekas-bekas reruntuhan batu. Setelah turun kira-kira 5 m mereka menemui lubang berikutnya untuk menuju ke pitch lima. Pada tempat ini juga terdapat ornamen-ornamen gua yang unik. Ornamen-ornamen gua yang terdapat pada tempat ini kelihatan sudah tua dan keras. Disini mereka juga menemui sebuah balok cor yang terdapat cat merah pada bagian atasnya. Kemungkinan besar balok cor ini menandakan nisan orang meninggal akibat terjatuh ketika melakukan penelusuran didalam gua. Mereka ingin sekali melanjutkan penelusuran sampai pitch kelima. Kemungkinan pitch kelima ini adalah pitch terakhir didalam gua, dengan jarak vertikal kira-kira 20 m dari pitch keempat. Namun karena peralatan yang mereka bawa tidak mencukupi akhirnya mereka tidak melanjutkan penelusuran sampai ke pitch lima.

Mereka kembali menuju keatas dengan menggunakan jumar dan croll. Orang yang pertama kali naik keatas adalah berson, kemudian setelah itu diikuti oleh bayu, aswin dan terakhir andreas. Andreas mengalami banyak kesulitan ketika naik keatas karena peralatan yang dibawanya cukup banyak. Sebagai sweeper andreas harus membawa semua peralatan sampai keatas. Seringkali barang yang dibawanya terjatuh sehingga ia harus kembali turun kembali kedalam gua.

Pada pkl 16.00 WIB mereka semua telah kembali ke mulut gua, mereka merapikan peralatan yang mereka pakai dan menghitung kembali peralatan tersebut. Setelah semuanya lengkap merekapun kembali ke warung ‘ma dan disana mereka makan bersama Mereka semua terlihat puas karena telah berhasil melakukan penelusuran dengan selamat. Kemal menyambut di warung ‘ma, ia kelihatan cukup kawatir karena keempat temannya tiba cukup lama. Setelah makan bersama merekapun kembali kesekretariat pada pkl 20.00 WIB dan tiba disana pada pkl 22.00 WIB. Aswin L G/K-243-02



CLIMB ON THE BEACH

Hari Selasa, 10 Agustus 2004, tim RC KAPA FTUI akan melakukan perjalanan ke Tebing Siung, Yogyakarta. Tim RC yang berangkat adalah Dendi “Babeh” Wijayatullah (K-259-04), Ramadhona “DhoneX” (NR 946), Dwi Setyo “Busuk” (K-242-02), Mohammad Abdul Jabbar “ Titut” (K-254-04), en Bagus Irwanto “ Tile” (NR 971/Red.Almarhum). Tim berangkat dari kampus tercinta jam 10.45 WIB setelah pelepasan dan langsung menuju ke stasiun Kota untuk naik kereta Gaya Baru Malam Selatan. Tim RC berangkat bareng dengan tim caving. Kita nyampe di kota jam 11.50 WIB. Rencananya langsung beli tiket karena kereta sudah menunggu kita, tapi tim caving ada yang ga’ keangkut di KRL karena keretanya penuh banget. Jadi diputusin untuk nungguin. Takutnya entar udah beli tiket tapi keretanya udah jalan. Rugi donk…. Eh ga lama setelah itu ada kereta KRL yang dateng. Anak-anak ngeliatin orang yang turun kereta nyariin Didi ama Ijid. Ada masalah… tiket udah terbeli ternyata Didi dan Ijid belum dateng. Untungnya tiketnya bisa dibalikin dengan alasannya keretanya udah berangkat. Tau ga ?? Ternyata Ijid ama Didi udah naik kereta Gaya Baru, langsung setelah mereka turun dari KRL. Si Babeh inisiatif untuk nanya ke bagian informasi, kereta ke Yogya apaan lagi ?? Untungnya ada kereta Progo yang berangkat dari Pasar Senen jam 21.15. Anak-anak pun setuju untuk naik kereta tersebut. Jam 12.30 WIB, kami langsung berangkat ke Pasar Senen dengan kereta jurusan Bekasi tanpa tiket (abis ga ada dananya!!). Tapi ada anggota RC yang beli tiket karena takut kena denda.

Sampailah kita di stasiun Senen en udah ketemu Didi ama Ijid. Waktu demi waktu kami lalui di stasiun Senen, ada yang ngisi waktu dengan maen kartu, ada yang ke pasar loak beli komik, ada yang tidur, ada yang baca majalah, ada yang kerumah pamannya buat mandi sore. Wah pokoknya banyak deh… menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Menu makan siang , pake telur, sayur ama oreq.

Jam 21.15, udah deket en kereta yang ditunggu-tunggu udah dateng. Terlihat senyum yang lebar dari tim RC dan caving, akhirnya berangkat ke Jogja dari stasiun Senen jam 21.20 WIB.

Kita makan malem di kereta karena di stasiun harganya mahal. Masa’ beli nasi aja Rp3000. Keretanya sepi, ga seperti biasanya, mungkin karena hari biasa kali ya. Menu makan malam telur, oreq, mie dengan harga Rp2000 ditambah tahu Rp1000, sesuai dengan budget.

Habis makan malam, semuanya pun tidur. Ada yang masih bangun, ada yang baca komik dan laen-laen. Karena keretanya lumayan kosong, tidurnya bisa ‘selonjor’. Satu orang dapat jatah 2 orang. Enak coi..

Ga terasa jam demi jam kita lalui. Jam 7.23 WIB, kami pun tiba di stasiun Lempuyangan. Stasiun Lempuyangan cukup bersih dibandingkan stasiun-stasiun di Jakarta. Tim RC diwakili Karomnya yaitu Jabbar “Titut” menelpon contact person di Yogya yaitu Mba’ Lia dari High Camp, sedangkan yang laennya menikmati indahnya stasiun Lempuyangan. Setelah nelpon, Jabbar menerima kabar baik karena untuk kerumah mba’ Lia, kita harus naek taksi. Anak-anak pada ketawa… Duitnya dari mana ya???? Wah berat banget tuch… khan ga ada budget buat naek taksi. Jalan keluarnya ya kita rencanain naek angkot sambil nanya-nanya. Sebelum berangkat, kita cari info kereta yang bakal bawa kita balik ke Jakarta. Kereta yang ada yaitu Bengawan, Gaya Baru Malam, Progo en Legowo. Rata-rata keretanya berangkat jam 17.00 – 19.00 WIB. “Ada jemputan….”kata anak-anak Caving. Kirain jemputan anak-anak caving, ternyata sungguh ga disangka. Jemputannya buat anak RC-nya. Wah seneng banget ada jemputan, gratis lagi. Dengan melapangkan dada kamipun pergi meninggalkan anak-anak caving….

Yang nge-jemput anak High Camp namanya Puri. Abis itu dia nganterin kita ke rumahnya. Rumahnya disekitar Bantul. Anaknya kuliah di UPN Yogya sambil kerja. Asik sih anaknya. Di rumah Puri, kita mandi-mandi, makan pagi (gratis!!!) ama evaluasi sampe jam 12.30 WIB. Soalnya Puri juga mau kesana en kita nebeng ama dia aja, lumayan gratis lagi. He...he…he… Di rumah Puri kita juga ngisi perbekalan air di Pantai Siung. Dalam rapat evaluasi ada yang resek, si Babeh kentut melulu, kentutnya bau banget lagi. Setelah rapat, DhonX ama Babeh beli konsumsi tambahan di pasar.

Di rumah Puri, nyampe jam 13.15 WIB. Kita berlima, Puri dan kedua orang temannya melanjutkan perjalanan ke Pantai Siung. Temennya bernama Riska ama Ais. Dalam perjalanan, mobil Puri terkena musibah. Gelang AC-nya putus dan remnya sedikit blong. Akhirnya kita nge-‘tem’ di warung sambil nungguin mobilnya dibenerin. Menu makan siang kita yaitu mie ayam paha Rp3000 en es campur Rp1500. Murah juga makanan dibandingin di Jakarta. Paha ayamnya juga lumayan gede.. Puas deh makan di Jogja… Busuk K-242-02

Ternyata enak juga ya di Jogja, dengan duit Rp3000 lo bisa makan ayam. Oh iya, tadi waktu makan siang ada trio kwek-kwek yang makan es campur nambah. Sambil nunggu, gw jalan-jalan keluar. Dipinggir jalan gw liat ada tenda dari terpal gitu, tempat orang jualan. Didalamnya ada meja panjang en 2 tempat duduk panjang. Trus ada 2 orang lagi makan bungkusan dengan enaknya. Gw piker itu semacam kue serabi. Karena gw penasaran gw nanya ama Riska. Dia bilang kalo itu namamnya “tangkringan”, asal kata “nangkring”alias tongkrongan. Bungkusan itu ternyata bukan kue. Itu isinya nasi bungkus, dengan lauk tempe orek, ikan teri dan laen-laen. Bungkusannya dinamakan”nasi kucing” He…he…he… loetjoe khan…?! Harganya cumin Rp500, kata Riska itu makanannya anak kost Jogja. Kapan-kapan gw pengen makan disitu ah…

Jam 16.30, mobilnya akhirnya kelar juga. Perjalanan kita pun berlanjut, menuju arah selatan. Puri ke pom bensin, buat ngisi solar. Karom berinsiatif untuk memberikan uang senilai Rp50000 buat beli solar. Ya itung-itung buat ongkos lah.. Trus di jalan sempet ke ATM dulu (ngambil duit buat bayar duit teropong Rp85000 en si Busuk juga pengen minjem duit gw buat beli ikan baker di Pantai Siung nanti. HOre..!!! Oh iya pengumuman! Si Busuk udah lulus! Tadi siang dia dapet sms dari temennya bahwa dia dah lulus. Buat ngerayainnya Busuk pengen beli ikan bakar. Sebenernya sich kita-kita yang maksa-maksa Busuk beli ikan. He…he…he… ga pa-pa ya Suk, kapan lagi bakar ikan di Pantai Siung?? Ya ga? Btw, selamet ye Suk!

Di mobil, Riska ma Ais rame bener. Pokoke bawel banget deh. Ketawanya kenceng, ceritanya seru-seru (gw liat dari nadanya?. Tapi sayangnya mereka berdua ngomong pake bahasa JAawa. Paling Cuma Busuk ama gw doank yang ngerti, itu juga cuma sedikit. Sedangkan Tile, Jabbar ama DhonX kagak ngerti, kayak kambing congek. Trus Puri pernah nanya, ada ga yang mabuk? Si DhonX jawab “mabuk cinta”. Wah semua orang ngecengin dhonX, dikira dia yang lagi mabuk cinta. Padahal khan…

Jam 18.00 kurang, kita nyampe di Siung. Gile…jalannya jauh banget. Kalo jalan kaki, ada sekitar 4 jam-an jalan ke jalanan aspal. Sampe di Siung, pemandangannya indah coy. Pantai, ombak gede, pasir putih, en tentunya tebing. Trus kita langsung ke tebing. Jalur yang pertama ketemu adalah jalur “selamat datang”. Dinamakan begitu, karena jalur ini yang pertama kita liat begitu masuk komplek tebing. Gradenya, kata Puri sekitar 5.10-5.11. DhonX, Busuk, Puri n Tile lanjut ke Center Hall, buat ngeliat posisinya. Sementara gw, Jabbar, RIska en Ais nunggu di jalur selamat datang. Tadinya kita mo nge-camp di center hall malam itu juga. Tapi akhirnya kita nginep dulu dibwah, dirumah penduduk sambil SOSPED. Ambis itu, Busuk masak. Menunya nasi, sop, ama tahu goring. Masakannya enak coy… DhonX, JAbbar, n Tile juga bilang enak. Tinggal Busuk sendirian mesem-mesem ga karuan. He..he…he… Abis makan, kita evaluasi sekitar jam 21.00. En seletalh evaluasi kita tidur, ada juga sih yang ga tidur ?! Ngapain ya?!

Kamis, 12 Agustus 2004

Kamis pagi kita mulai berangkat ke tebing dari camp pemanjat . Ternyata center hall-nya ada disebelah kiri jalur selamat datang. Sampe di center hall, kita semua pada ngeluh. Gila… carriernya berat banget, mana bawa gallon lagi. Gat au kalo gw jadi anak GH. Gw ama dhonX ormed, liat-liat tebing en jalur. Sementara Tile, Busuk, n Jabbar siap-siap di center hall, basecamp kita. Mereka masak, buka tenda en nyoba-nyoba jalur yang ada di center hall. Gw ma dhonX muter-muter dilokasi tebing. Niatnya sih nyari jalur artificial, tapi koq ga ketemu-ketemu. Dimana-mana jalurnya sport. Kita juga sempet ke tempat paling tinggi di komplek tebing. Dari situ keliatan semua area, ga ada lagi tempat yang paling tinggi. Disitu juga ada monyet, gemuk-gemuk lho monyetnya. Trus kita balik ke basecamp, en m,ulai makan dan siap-siap manjat.

Akhirnya kita mulai manjat di jalur sport yang ada di sebelah barat basecamp. Disitu sebenernya ada hanger, tapi gw nyoba pasang pengaman sendiri, lubang tembus 3 ditambah 1 hanger. Ketinggiannya sekitar 18 m, batunya tajem-tajem. Kaki gw kena 2 kali berdarah. Jalur ini menghadap langsung ke pantai, so pemandangannya keren coy. Selain gw en dhonX, Tile juga ikut manjat di jalur ini. Jam setengah dua belas kita udahan, terus pindah ke tebing yang disebelah utara base camp. Asumsi gw, ini namanya jalur 9 bor. Pertama dhonX ngelead sampe runner 6. Jalurnya slab, pegangannya kecil-kecil en kadang-kadang tersebunyi. Abis itu gw nyoba manjat. Pertama-tama agak sulit, gw sempet kepleset sedikit. Akhirnya gw bisa ngelanjutin jalur ini sampe runner 8. Gw nyari runner 1 lagi diatas , tapi ga ketemu. Coz ketutupan ama pohon-pohon akhirnya gw turun pake triple rope. Selesai manjat jam setengah empat.

Sementara itu Busuk n Jabbar lagi nyoba jalur yang ada di basecamp. Jalur pacaran ama jalur belakang tenda. Abis itu kita beres-beres. DhonX ama Tilke masak, gw bikin api. Jam 20.00 kita makan, abis iu evaluasi sampe jam 22.30. Wah anak-anak pada cape banget, so semuanya langsung pada tidur.

Oh iya, gw nulis ini pagi-pagi disertai bunyi deburan ombak yang seakan-akan berlomba ingin mencapai pantai. Trus ada juga anak biologi UGM yang dateng ke base camp kita. Katanya mo survey, tapi gw gat au buat apaan. Babeh K-259-04

Jum’at 13 Agustus 2004

Ketika jarum jam menunjukkan jam 6.00 tepat maka saat itu pulalah aktivitas hari ini dimulai. Sem,ua anggota tim MPRC bangkit dari peraduannya masing-masing. PJ makan pagi hari ini adalah Babeh. Sambil menunggu makan pagi siap maka anggota laennya menjalankan tugasnya masing-masing. DhonX menyiapkan alat-alat, sedangkan gw, Busuk, en Jabbar orientasi medan menyusuri pantai kearah Barat. Medan yang dilalui merupakan batuan karang yang tajam. Cukup lama kami berjalan, sampai akhirnya tiba di sebuah teluk dengan pemandangan yang amat indah. Berbeda dengan pantai-pantai sebelumnya maka pantai di teluk ini ombaknya lebih tenang, berpasir putih dan berair jernih hingga dasar laut di teluk itu dapat terlihat. Tampak beberapa nelayan melemparkan kailnya menuju laut lepas. Indah, memang indah. Namun saying bukan ini yang kami cari. Tebing artificial yang kami cari belum didapatkan. Sebuah bongkahan kurang besar yang kami tuju ternyata tidak tepat di pantai namun harus menyeberang terlebih dahulu. Akhirnya kami mengurungkan niat untuk menjamahnya. Dari teluk itu kemudian kami beranjak untuk menemukan misi semula. Dua punggungan telah terlewati. Bukit gersang yang merupakan lading penduduk setempat merupakan akhir dari barisan-barisan tebing karang pantai Siung. Akhirnya kamipun memutuskan untuk kembali ke Base camp melewati jalan setapak yang berujung di sebuah jalan aspal yang menuju kepantai suing.

Hampir 2 jam kami berjalan. Cukup letih, namun harum aroma sarapan pagi yang telah dinanti, mempertegar langkah kami menuju basecamp. Sayang, amat saying. Sarapan pagi yang dibuat Baebh “gatotkaca” alias gagal total kagak cedap. Lagi-lagi si Jabbar tidak makan. Si Busuk en DohoX makannya ga abis. Tetapi karena gw benar-benar lapar maka rasa jadi no 2, yang penting perut terisi.

Setelah makan Jabbar dan Busuk melanjutkan orientasi medan, gw nyiapin alat manjat sedangkan Dhona dan Babeh beres-beres. Setelah orientasi medan yang kedua selesai dan belum satupun tebing artificial yang diharapkan ketemu, maka kami bertigaa selaku tim pemanjat memutuskan untuk pindah haluan. Skenario pemanjatan artificial ditukar dengan pemanjatan sport. Akhirnya kami memutuskan untuk memanjat jalur Selamat Datang yang terdiri dari tiga jalur. Kami mulai dengan yang sebelah kiri. Jabber lead . Dari 4 pengaman, Jabbar hanya mendapatkan 1 runner, diteruskan oleh gw yang nambah 1 runner lagi. Pahlawan yang diharapkan “Busuk” ternyata juga gagal menambah perolehan runner. Berulang kali kami mencoba memanjatnya namun lagi-lagi gagal. Sesulit itukah jalur tersebut? Kendala utamanya adalah tajamnya pegangan-pegangan yang tersebut, dengan melapisi jari kami dengan plester luka, tetapi lagi-lagi tak berhasil. Kemudian kami beranjak ke jalur sebelah kanan setelah Busuk nge-clean jalur sebelumnya dengan “triple rope” teknik.

Gw, Jabbar dan Busuk bergantian nge-lead di jalur tersebut sampai akhirnya Busuk berhasil mencapai top. Selanjutnya gw, Jabbar en Babe bergantian memanjat jalur tersebut sampai top (top rope). Hari sudah hampir jam 14.00. Sambil menunggu yang laen manjat maka kami bergantian menikmati snack yang telah disiapkan. Setelah semua telah mencoba jalur tersebut maka tugas gw untuk nge-clean. Atas permintaan Babeh dan Busuk, gw nge-clean jalur tersebut melalui jalur tengah. Setelah selesai, kami kembali ke Base Camp untuk menjamah tebing berikutnya yaitu “tebing samping tenda” begitulah kami menyebutnya karena letaknya berada disamping tenda kami. Jalur tersebut merupakan jalur sport namun diatas tebing bersebut masih terdapat tebing. Kami berniat meneruskan jalur tersebut secara artificial, leadernya adalah Busuk. Namun ketika sampai di teras tidak ada pengaman untuk terus keatas dan banyak tumbuhan yang rapat, Busuk kemudian turun. Dhona kemudian melanjutkannya untuk meneruskan ke atas tetapi sama seperti Busuk, tak ada pengaman yang bisa diperoleh. Hari telah menunjukkan pukul 16.00. Waktu pemanjatan telah selesai. Cek perlatan dilakukan. Setelah selesai, Busuk, Dhona, Babeh, en gw pergi ke kolam alami di tepi pantai untuk berendam. Kolam alami tersebut ditumbuhi oleh terumbu karang dan airnya amat jernih. Tak lama kami disana. Malam telah tiba, PJ masak malam ini adalah gw. Makanan yang telah masak telah dibagi lima dan siap untuk disantap. Wow, bukan main enaknuya (dibandingkan masakan tadi pagi). Hal itu terbukti dari si Jabbar yang memakan makanan itu. Perut kenyang dan sekarang waktunya evaluasi. Saat evaluasi banyak yang ngantuk. Ada yang memakai kacamata hitam punya babeh, supaya nggak keliatan tidur saat itu (siapa hayo?!) tapi akhirnya ketahuan juga. Setelah evaluasi maka waktunya untuk tidur. Tile NR 971

Sabtu, 14 Agustus 2004

Day three, sabtu pagi aktivitas kami dimulai kembali. Hari ini waktunya gw ma dhona untuk manjat. Busuk kebagian tugas masak pagi, sementara Tile nyiapin alat-alat pemanjatan. Gw ma dhonX siap-siap manjat, pemanasan, ormed, dll. Rencananya kita mo manjat di tebing “belakang tenda”. Begitu kami menyebutnya karena memang letaknya yang tepat berada di belakang tenda kami. Jalurnya artificial. Setelah makan pagi yang porsinya cukup besar, gw n dhonX memulai pemanjatan. DhonX nge-lead. Setelah sekitar 20 menit, akhirnya dhonX mencapai top. Tebing ini memang tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 20 meter. Jenis batuannya karang, di top batunya tajam-tajam sampai anggota ada yang mengalami cidera kaki. Pemanjatan selesai sekitar jam setengah 12. Dari top terlihat jelas pemandangan indah Pantai siung. Disebelah kiri terbentang pantai pasir putih disertai batu-batu karang. Sedangkan di sebelah kanan berdiri menjulang tebing-tebing karang, yang terus dihantam derasnya buih-buih ombak. Dihadapan kami terhampar dengan luas laut biru. Subhanallah, sangat indah ciptaan Yang Maha Kuasa...

Setelah beberapa saat menikmati indahnya pemandangan serta berfoto-foto sejenak, kami memutuskan untuk turun. Karena tali yang kami pakai tidak cukup untuk sistem triple rope. Kami memutuskan untuk climb down ke teras bawah yang jaraknya tidak terlalu jauh. Namun ketika dhonX baru mulai clim down, terdengar suara Jabbar yang memanggil-manggil. Ternyata tebing ini memiliki jalur belakang. Jabbar pun ikut naik ke tempat kami. Oh iya, DhonX mengalami musibah. Badannya terkena ulat bulu , seluruh badannya bentol-bentol ga karuan, plus gatal-gatal. Dia buru-buru turun lewat belakang n langsung ngambil obat. Gw n Jabbar nge-clean alat-alat n turun juga lewat belakang. Sampe di bawah jam 12, waktunya istirahat n makan snack yang udah disiapin. Berhubung manjatnya cepet, maka tim II yang rencananya manjat besok, dipercepat hari itu sekitar jam 13.00. Tim II itu adalah Busuk, Jabbar n Tile. Jalur yang digunakan masih sama, Cuma agak kekanan. Kali ini yang kebagian nge-lead Tile. Dalam waktu yang singkat Tile sudah mencapai top, diikuti kemudian oleh Busuk n Jabbar. Entah apa yang mereka lakukan di top, gw hanya bisa memandang dari bawah.

Ketika sedang asik menikmati sore itu yang indah itu, tiba-tiba datanglah tamu yang kami tunggu-tunggu dari kemarin. Mereka adalah Waku en Wisnu. Mereka naik kereta api dari Jakarta ke Jogja, terus kesini naik bis. Wisnu n dHonX langsung ormed tebing lagi, kali ini dengan pengetahuan Wisnu. Sementara Waku n Jabbar mencoba jalur “Selamat Datang”. Kemudian yang lain bergabung bersama Waku n Jabbar di jalur “Selamat Datang”.

Hari menjelang malam, tiba waktunya bagi kami untuk beres-beres dan masak. Yang kebagian masak malam ialah Jabbar, sementara dhonX bikin api. Dengan kepandaiannya mengoceh, wisnu mulai berbicara ngalur ngidul. Kadang-kadang lucu, namun kadang-kadang garing juga. Setelah makan malam, kami sempat nyanyi-nyanyi sejenak, dan mulai merasakan dinginnya malam, sambil memandangi bintang-bintang yang bertaburan di angkasa.

Pukul 20.00, kami pun mulai evaluasi kembali. Setalah evaluasi, kelelahan setalah beraktifitas seharian membuat kami ingin memejamkan mata. Atas inisiatif seseorang, kami pun tidur diluar tenda beralaskan terpal beratapkan langit, berhiaskan bintang-bintang, tentu saja dengan menggunakan sleeping bag. He...he...he... hanya jabbar saja yang menggunakan sarung bag.

Minggu, 15 Agustus 2004

Day four, aktivitas kami hari ini dimulai pada pukul 05.30. Gw bangun paling awal. Oh iya semalem, kita semua tidur diluar. Wuihh... dingin banget, tapi karena gw pake sleeping bag, so lumayan anget lho.

Abis bangun, niat gw pengen cari sunrise. Trus gw ke tempat yang kemaren gw temuin. Tapi ternyata mataharinya ga keliatan juga. Akhirnya gw balik ke basecamp, beres-beres makanan semalem en mulai masak. Rencananya anak-anak mo manjat artificial di tebing belakang. Masakan pun jadi, n kita mulai makan. Kata anak-anak sich nasinya enak, tapi koq lauknya ..........

Anak-anak siap-siap buat manjat, sementara gw en dhOnX kebagian jaga basecamp. Yang kebagian nge-lead si Jabbar. Jalurnya ngikutin crack, kalo dipikir-pikir mirip ama film K-2. He....he...he.... Dia nge-lead ampe pitch 1 abis itu stuck. Abis itu Tile mengikuti dengan dibelay oleh Jabbar. Anak-anak pun mengikuti, Busuk, Waku, Wisnu, n DhonX. Namun mereka free soloing, ga dibelay. Dari pitch 1 ke atas, kondisinya batuannya rapuh. Dan crack yang keliatan dari bawah ternyata tidak bisa dipanjat. Akhirnya dengan berat hati, mereka pun turun. Sementara gw ama DhonX selaku tim darat, foya-foya. Kita masak indomie en mulai foto-foto dengan gaya norak.

Setelah tim pemanjat tiba di base camp sekitar jam 15.00, ternyata mereka bareng Puru yang dateng dari Jogja. Puri ketemu tim pemanjat di center hall “palsu”. Oh iya , Puri dateng ama ceweknya. Kemudian mereka mencoba jalur pacaran n jalur samping pacaran. Puri n Ali, orang yang jagain Siung, juga ikutan manjat. Kita manjat ampe jam 18.00.

Puri pamit pulang, n abis itu, kita mulai beres-beres n masak makan malam. Yang kebagian masak malem Tile, dibantuin ama wisnu. Sementara Busuk bikin api. Kemudian kita makan malam. Abis itu kita evaluasi ampe jam 01.30. gile ...lama banget! Kita evaluasi sambil crita-crita sich. Abis itu kita tidur. Oh iya waktu tidur, si Wisnu sempet diapa-apain ama makhluk sana. Untung ga terlalu parah. Babeh K-259-04

Senin, 16 Agustus 2004

Day five, hari terakhir di Siung... Pagi menyambut desakan-desakan panas mentari mengusap tenda-tenda kami dengan back sound deburan-deburan ombak yang berdentum keras.... yang perlahan menyurut...

Hari ini, sekitar tengah hari direncanakan meninggalkan titik camp pemanjat menuju Wonosari.. Tapi sebelum itu... Puas-puasin manjatt!! PJ masak pagi ini adalah Busuk + Wisnu, Gw n Babeh dipercayakan untuk memgang amanah yang sangat mulia : mapping tebing siung sebagai usulan gw beberapa hari lalu dan ditagih oleh tim juga... Damn!! Yah itung-itung nambahin data-data RC kita. Makan paginya lumayan enak, tapi porsinya nasinya lumayan kuli. Kagak abis.. Menu : kreasi tim masak : indomie goreng telor, sarden telor, pokoke foya-foya, dan yang jelas hari ini mempunyai misi ngabisin sisa logistik dan tiap-tiap anak @ 3 liter air... kembung-kembung deh loe.. biar gak berat-beratin bawaan.

After taking a nice breakfast, we all get our ass to our own works, Jabbar n Waku : stay put on center hall, which is either doing climbing activity... Busuk n Tile ; pump their fuckin’ muscle by climb up the sport track on “fake center hall”. And me dan Babeh try to map the siung area. Scematic I guess, but hopefully informatif for every people... OK, enough for the f*****in’ English!

Abis itu gw keliling-keliling ampe ke tebing-tebing diujung yang paling tinggi... capek juga.. dengan modal kertas, papan jalan dan kompas bidik... dan seorang teman yang harus diomelin dulu supaya nemenein gw. Hehe.. sori Beh... Akhirnya selesai juga.

Ketemu tim manjat sport (Busuk-Tile) nyoba-nyoba bentar... kayaknya asik.. agak lama manjat akhirnya di-clean... pada ga bisa Busuk dan Dendi, lemes gitu ... sedangkan gw pengen boker... tanpa disangka berhasil nge-clean! Cabut deh...

Waku en Jabbar juga lagi nge-clean jalur pacaran... sempet ada masalah teknis, salah triple rope si Jabbar... ck...ck.. tali nyangkut. Sekitar jam 11.00 pemanjatan berakhir dan bongkar-bongkar + pembagian barang bawaan... Ready to packing + pasti... foto-foto... juga ditemani anak mapala biologi UGM...

Jam 12.30 – 13.00.. nunggu ojek ke depan sembari cuci-cuci/bersih-bersih.. akhirnya dateng juga tapi cuman ada 3. Jadi tuh ojek nganterin bolak-balik nanjak, mana barang-barang berat-berat banget lagi!!! Tanjakan pula, motornya udah bengek2 lagi!! Akhirnya sekitar hampir sejam seluruh tim siap berangkat dari jalan raya (pertigaan siung-tepus) naek mobil sedang dengan tarif Rp3.500, sepanjang jalan banyak pawai dan pasar tahunan... macet!!

Tiba di terminal Wonosari , sempet terjadi ketegangan, ada orang maksa ngambil barang-barang (2 carrier) langsung dibawa ke bis! Minta ditampol kali yak ?!

Untungnya itu kenek-nya.. ya udahlah, laen kali lebih waspada.. Sore, sampe ditermi Yogya.. naek bis jurusan Tempel.. turun di terminal Jombor sebagai transit nunggu jemputan om-nya.

Busuk.... jam 16.30 sampe... & berharap dijemput pake mobil oleh om-nya Busuk... ternyata eh ternyata.. pake vespa!! Satu doank lagi ...Akhirnya lagi2 trip antar jemput ... yang ngabisin waktu sampe maghrib lewat.

Sampe juga , rumahnya om Busuk berada dikawasan rural urban, masih banyak sawah dengan aliran irigasi dengan kolam-kolam ikan mas dan bawal dan ternak di halamannya. Ndeso abis! Jadi pengen tidur-tiduran... ZzzzZ.. enak tenan...

Malem tidur bergelimpangan sampe lupa evaluasi.. ZZzzZzz..ZZzzZ....

Selasa, 17 Agustus 2004

Rencana hari ini adalah sesuai dengan rapat pagi ini ... aspiratif ke Malioboro, balikin galon.. sorenya ?! Mancing + bakar ikan, itung-itung dikolam ikannya gede-2 (Bawal choy!). Sementara Babeh en Busuk ke Bantul pake vespa bawa 3 galon aqua yang harus dikembalikan menjadi duit Rp100.000. Gw, Jabbar, dan Tile, memutuskan memancing ikan untuk nanti malem... dengan pertama-tama cari cacing di parit-parit sawah.. ternyata nyari cacing susah juga. Setelah tidak beberapa lama, tim aqua galon udah pulang, ternyata galonnya dijual di toko laen, dengan harga lebih murah tentunya yaitu Rp75.000.

Dan it’s mancing time. Semua orang kebagian kesempatan mancing, gampang banget.. maklum kolamnya berisi ikan yang merembik!! Haha gw paling banyak dapet.. jadi ketagihan..

Setelah hampir jam 13.00, kita cabut ke malioboro, katanya sih 2 kali naek bis. Pertama-tama jalan kaki dulu ke pertigaan... lumayan kurang lebih 2 km. Naek bis ke arah jogja, sambung naek bis apa gitu... gw lupa... turun di istana presiden. Total sekitar 2 jam sampe di Malioboro.

Tak disangka , Jogja sempit banget. Kita ketemu 2 orang yang sangat familiar sedang minum es dawet. Tebak : Waku dan Wisnu.. ngobrol-ngobrol bentar.. akhirnya kami pun jalan bareng. Malioboro pun disusuri dari ujung-ujung, isinya gitu-gitu doank. Tapi emang dasar tukang ngabisin duit , belanja-belanja juga. Setelah melepas waku dan wisnu , kami pun memborong baju kaos item-item sampe abis 200 ribu. Yah buat oleh-oleh (ber-5! digabung) dan juga sempet mampir di counter Dagadu. Beberapa dari kami membeli celana panjang kurang lebih Rp27.500 bermotif batik. Jalan-jalan lagi si Busuk beli slayer jawa dan celana tidur. Jabbar juga. Tile belanja buat adeknya... so sweet...

Hari udah mulai sore, diputuskan untuk bergegas pulang, sebelum angkutan umum abis. Ternyata iya, udah ga ada lagi.. terpaksa nyambung-nyambung.. setelah berjalan kaki kesana kemari.. Bis jalur 12, sambung jalur ‘Tempel’ dan dari pertigaan jalan kaki kerumah. Tapi sayangnya.. ada salah satu dari rekan kami salah berhenti, sehingga kamipun menerima ganjarannya : berjalan kaki lebih jauh lagi kurang lebih 5 km.. tak terasa dengan ketabahan hati sang kura-kura, kami pun tiba dirumah.

Istirahat sejenak... Oh iya lupa, sempet terjadi ketegangan , tim disambut tidak ramah oleh sekawanan anjing rumah dan tetangga-tetangganya!!! Setelah gongongan garas belum berhenti-berhenti.. gw putuskan untuk membuka jalur menerobos masuk ke halaman rumah secara perlahan dan waspada.. dan akhirnya ... berhasil.. tapi...! Hanya busuk yang ikut dibelakang gw. Jabbar, Babeh en Tile masih terjebak.. dan .. Hahaha...!!! digonggongin terus dan ketakutan. Geblek!!! Akhirnya mereka lompat pagar halaman , muter-muter pula.. diledekin sama om-nya Busuk... Mapala takut anjing ???

Akhirnya ketegangan mereda , disambut dengan hangatnya rumah dan ditutup dengan sendau gurau kami.. dengan mencoba-coba dan bergaya dengan kaos borongan kami..+ bersiap-siap mengolah ikan hasil tangkapan untuk dibakar atau digoreng.. singkat cerita.. euih.. sedap!! Mantap! Pedas! Puas.....

Tak lama setelah cuci piring, terlelaplah kami.. setelah 1-2 jam mereka tidur, Jabbar bangun juga dan dibuka lah evaluasi (00.30). DhoNeX

Rabu, 18 Agustus 2004

Malam telah berlalu... Mentari pun mulai menyapa.. Hari ini merupakan hari terakhir kita di Jogja.. Hiks..hiks.. Today, we spent time with ‘mangan turu mangan turu’. HE...he... ada juga yang mancing ikan dan dilepas lagi. Rencananya hari ini kita mau naek kereta Progo yang jadwal berangkatnya jam 17.15. en rencananya dianterin ama om gw.Lucunya... ngabisin waktu dengan nyusun potongan kubus trus dijadiin kubus lagi...Ada yang lama nyusunnya sampe beberapa jam.. Siapa ya? Tapi untungnya diselamatkan pada detik-detik terakhir keberangkatan ke stasiun lempuyangan. Wah ga tau lagi deh ?!

Jam 15.00 udah lewat, terlihat wajah khawatir dari anak-anak. Soalnya kalo ga berangkat sekarang. Bisa-2 kita ketinggalan kereta, dan harus nunggu satu hari lagi. Gw coba nghubungin om gw.. ternyata mail box.. wah gawat nih!!

Ternyata tante gw bilangin kalo entar bakal dijemput ama om gw... wah lega.. Akhirnya jemputan pun dateng, beres-beres bentar dan pamit .... dan berangkatlah kita menuju stasiun Lempuyangan. Di stasiun lempuyangan jam 16.30. Beli karcis dulu yang diwakili oleh rekan kami Jabbar. Ada hal yang lucu... ada calo yang nawarin tiket kereta Progo, tau ga? Katanya ga ada tempat duduk, udah abis!! Dasar penipu ga mau ditipu, kami pun ngecek dulu yang diloket... ternyata masih banyak koq. Wah ..kacau nih?! Gimana Indonesia mau maju??/?

Tak lama kemudian, kereta pun berangkat. Keretanya lumayan rame dibandingkan waktu berangkat. Ada yang tidur dibawah.. Pokoknya penuh deh.. Suasana Jogja sedikit demi sedikit menghilang dari peredaran... Suara alunan musik dan nyanyian ombak-ombak sudah tidak terdengar lagi... Hiks...hiks...

Di kereta, karena ga ada bacaan. Ada salah satu teman kami yang beli koran kayak Lampu Merah gitu deh? Yang isinya tentang eseX-eseX... Lumayan juga buat bacaan... kami pun tertidur lelap setelah makan malam dengan menu nasi + ayam yang harganya Rp3.000.

Jam 5 pagi, terdengar suara motor, dan suasana yang kita liat ga asing lagi bagi kami. Kita udah nyampe di Pasar Senen. Akhirnya nyampe juga... Seperti kesepakatan kita, kita pake baju yang item ... Biar kesannya kompak. Hehehe........Ga terasa Musim Pengembaraan pun telah selesai kami lalui. Kemudian kita ke kota dulu naek kereta yang dari Bekasi kemudian naek KRL ke arah stasiun UI.

Suasana kampus terdengar lagi... adanya kegiatan BTC menyambut kita di kampus kita yang tercinta... Tapi sayang, anak KAPA yang nyambut dikit, cuman adan Berson ama Ima. Kemudian kita cek alat dan melakukan evaluasi... Euih ....cape oi... OK... sampe disini cerita Pandhawa Rock Climbing. BoeSoek K-242-02

Gas Belerang di Gunung Welirang(Oleh:Robby Marolop,NR.986)

Seperti yang sudah direncanakan, kami tim MP GH yang berjumlah delapan orang berangkat dari sekret tercinta kita pada tanggal 7 Agustus 2004 untuk memulai musim pengembaraan menuju gunung Welirang dan gunung Arjuno. Dengan dana yang sudah diberikan oleh panitia serta tambahan dari uang topi pada saat pelepasan, kami pun menuju stasiun Senen untuk naik kereta ke arah Malang.

Setibanya di Malang kami pun langsung menuju Impala yang merupakan kelompok pencinta alam dari Universitas Brawijaya, kami pun disambut dengan tangan terbuka oleh anak – anak bravo tenda, begitulah mereka menamakan sekret mereka.

Setelah saling mengenal denan anak – anak Impala dan ngobrol dengan mereka maka sebagian besar dari kami memilih beristirahat setelah kelelahan selama perjalanan di kereta dan ada juga yang memilih untuk jalan – jalan mengelilingi Unibraw dengan ditemani dua orang dari mereka. Namun setelah yang jalan – jalan tersebut balik ke sekret mereka juga memilih langsung beristirahat menyusul teman – teman yang sudah mendahului mereka.

Malam harinya kami ngobrol – ngobrol dengan anak – anak Impala, dan makan malam ditemani oleh Tri, disana makanannya lebih murah dari pada di Jakarta, nasi-sayur-dengan ayam saja hanya Rp 2.500,- , kira – kira setengahnya harga di Jakarta, tapi tetap saja kami tidak dapat makan sepuasnya karena kami harus irit untuk memperkecil pengeluaran dana tim, dan selama di Unibraw kami hanya makan dua kali sehari untuk memperkecil pengeluaran, namun ada juga yang makan tiga kali sehari bahkan lebih tapi menggunakan uang pribadi.

Senin siang kami berangkat dari Impala menuju desa Pedusan, ditemani oleh Pipit yang merupakan anak Impala, ia ikut serta dengan kami untuk bersama – sama mendaki gunung Welirang dan Arjuno. Sampailah kami di desa Pedusan sore harinya, disana kami beristirahat semalam di rumah ketua RT, dipercepat satu hari karena desa Pedusan sudah modern dimana menurut perencanaan kami menginap dua hari di rumah penduduk. Di rumah itu kami disambut dengan hangat oleh keluarga itu, dan mereka juga memberikan penjelasan – penjelasan kepada kami tentang gunung yang kami tuju sehingga kami semakin memahami kondisi gunung disana.

Keesokan harinya setelah sarapan, Maro, Satria, dan Yasin z mengecek lokasi starting point dan memperhatikan kondisi di sana, setelah yakin dengan strating point yang telah dibuat berdasarka skenario, maka mereka kembali ke rumah ketua RT dan mulai bersiap – siap mengemasi barang bawaan mereka. Setelah makan siang maka tim MP GH bersiap – siap untuk mulai mendaki gunung.

Orvel, Yasin W, Maro, Yasin Z, Satria, Desmon, Fitra, Emil, adalah urutan orang yang jadi parangman, kompasman, dan yang terakhir menjadi sweeper dan urutan tersebut di rotasi setiap satu jam jadi orang pertama yang menjadi parangman adalah Orvel, dan yang menjadi kompasman adalah Yasin W serta Emil menjadi sweepernya. Kami mengisi tempat – tempat air kami di sungai yang juga menjadi starting point kami, Dari sana kami naik punggungan Gragal yang berbatu – batu sesuai namanya. Ditengah perjalanan menaiki punggungan Gragal tim MP terbagi dua jalur tapi tidak terlalu jauh, hal itu disebabkan karena terhalangnya orang yang berjalan di depan oleh sebuah pondok, sehingga orang yang di belakang lewat jalur kiri sedangkan yang di depan lewat jalur kanan, namun mereka ketemu juga setelah beberapa puluh meter.

Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 hal tersebut menandakan kami harus mencari tempat yang cocok untuk mendirikan tenda, jadi Yasin W dan Maro ngecek lokasi yang cocok untuk tempat berkemah, setelah mendapatkan tempat yang cocok untuk beristirahat maka kami pun mulai melaksanakan tugas masing – masing sesuai perencanaan, ada yang masak, mendirikan tenda dan ada yang membuat api. Setelah selesai makan dan evaluasi serta perencanaan untuk keesokan harinya, seperti kebiasaan yang terjadi di divisi gunung hutan maka forum tenda pun dibuka dengan tujuan untuk saling mengenal antara sesama anggota divisi gunung hutan, disaat forum tenda sedang berlangsung entah apa yang terjadi, tiba – tiba saja muka Orvel gatal – gatal dan setelah diberi saran untuk mengolesi mukanya dengan abu bekas bakaran api, maka diolesi juga mukanya dengan abu bekas bakaran api yang membuat mukanya menjadi hitam dan lucu sehingga tertangkaplah mukanya dengan jepretan kamera untuk mengabadikan mukanya.

Keesokan harinya, yaitu hari kedua bagi tim MP GH di dalam misinya untuk mendaki gunung Welirang, pergilah Fitra dan Yasin W turun ke sungai untuk mengisi persediaan air yang telah terpakai agar persediaan air tim menjadi penuh lagi, setelah menunggu kedatangan Fitra dan Yasin W yang telat datang dari sungai karena tidak membawa jam sehingga mereka tidak dapat memprediksikan waktu, maka berangkatlah kami untuk melanjutkan perjalanan diamana yang menjadi parangman adalah Maro dan kompasman nya adalah Yasin Z, dan itu adalah hari yang cukup sial bagi kedua orang tersebut karena kedua – duanya disengat tawon pada saat mengecek jalur, namun yang parah adalah Maro karena mukanya sampai bengkak sedangkan Yasin Z hanya kesakitan saja, setelah beristirahat sambil menahan sakit maka perjalanan dilanjutkan kembali dengan muka yang semakin membengkak namun sakitnya berkurang.

Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 maka kami pun mulai mencari tempat yang cocok untuk memasak dan makan siang, setelah makan siang maka perjalanan dilanjutkan kembali, ditengah – tengah perjalanan kami mendengar suara dan gerakan dari pohon yang bergoyang dan kami menyimpulkan bahwa itu adalah babi, mengetahui hal itu maka parangman dan kompasman pun sudah mempersiapkan diri sesandainya mereka bertemu dengan babi itu ketika membuka jalur, perjalanan pun berjalan terus dan kami berjumpa dengan babi tersebut, setelah berjalan terus tiba – tiba kami dikejutkan dengan adanya rumah di depan kami, dan untuk menutupi rasa penasaran kami akan adanya rumah di tengah hutan maka kami pun langsung menuju rumah tersebut untuk mengetahui rumah siapakah itu. Ternyata itu adalah rumah kuncen penjaga kuburan yang ditempai oleh sepasang suami istri yang sudah tua.

Tepat di sebelah rumah tersebut ada makan Eyang Wadak dan tak jauh dari rumah tersebut ada maka Brawijaya yaitu raja pada zaman kerajaan tempo dulu, dan ternyata makam – makan tersebut lumayan ramai juga dikunjungi oleh wisatawan karena ada jalur dari desa terdekat ke makam tersebut.

Kami pun memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanan dan bermalam di rumah penduduk tersebut, tak lama setelah kami sampai ternyata ibu yang punya rumah sudah menyiapkan makan sore bagi kami berupa daging kijang, dan kami pun bersemangat untuk menikmati daging tersebut karena jarang – jarang kami bisa makan daging kijang, setelah makan dan ngobrol – ngobrol dengan pemilik rumah maka sebagian dari kami ada yang ikut pak kuncen ke sungai untuk mandi, dan yang tinggal di rumah tinggal Maro, Desmon dan Satria. Setalah yang dari sungai balik ke rumah maka kami pun mulai menyiapkan bahan – bahan masakan yang akan dimasak untuk makan malam sambil ngobrol – ngobrol dengan pemilik rumah tentang keadaan gunung Welirang dan gunung sekitarnya.

Di rumah itu tidak terlalu dingin karena ada kayu bakar yang selalu menyala sampai pagi hari di tengah – tengah rumah tersebut. Keesokan paginya setelah sarapan kami pun mulai mengemasi barang – barang kami untuk melanjutkan perjalan menuju puncak gunung Welirang dimana Desmon yang menjadi parangman dan Fitra yang menjadi kompasman nya, perjalanan pun dilanjutkan melalui makam – makam menuju ke puncak gunung Welirang, ditengah perjalanan sekitar jam setengah sebelas kami menyempatkan diri untuk foto – foto dahulu karena pemandangannya bagus.

Pada saat acara makan siang, Orvel dan Emil mengecek jalur ke depan sementara yang menjadi PJ masak tetap memasak, dan mereka kembali bertepatan dengan selesainya acara masak – memasak dengan membawa kabar kurang mengembirakan dimana jalur yang harus kami lalui tidak bisa dilalui karena lembahnya yang harus kami lalui membentuk sudut 90 derajat dengan punggungannya, dan kamipun memutuskan untuk lewat jalur lain.

Sore harinya sekitar pukul 15.30 kami memutuskan untuk ngecamp karena kabut sudah naik sehingga tidak mungkin lagi untuk meneruskan perjalanan dan pada saat itu itu kami pas berhenti di atas punggungan kecil yang datar dan banyak pohon mati dan juga batas cagar alam sehingga memudahkan tugas dari pj bangun tenda dan pj bikin api. Pada malam harinya banyak diantara kami yang langsung tidur dan yang terjaga tinggal Satria, Orvel, Yasin Z dan Maro, mereka berempat ngobrol – ngobrol dan sempat ada kejadian lucu dimana ketika ingin menghangatkan roti dengan menaruhnya di atas golok dan mendekatkannya ke api tapi ternyata rotinya malah terbakar yang membuat kami semua tertawa terbahak – bahak.

Puncak Welirang telihat cukup jelas dan indah pada saat kami melihatnya di pagi hari yang membuat kami menjadi bersemangat meneruskan perjalanan meskipun terbentang punggungan yang terjal di depan kita yang harus kita lewati. Dengan semangat yang kuat maka jalur yang terjal pun dapat kami lewati sampai makan siang, namun kami harus berjuang lagi karena setelah makan siang jalur yang harus kami lalui juga terjal. Selama perjalanan pada hari keempat ini kami harus berhadapan dengan kabut yang tidak bersahabat, jadi pada saat kabut sedang naik maka kamipun harus menunggu samapai kabutnya turun dan langsung melanjutkan perjalanan tatkala kabutnya turun.

Untuk yang kedua kalinya kami menemukan lahan yang cukup datar untuk kami membangun tenda, memasak dan membuat api dan itu juga menguntungkan pj – pj yang bertugas melakukan hal tersebut, namun pada saat tugas yang harus mereka kerjakan selesai, tiba – tiba saja mereka berlari ke arah Yasin Z dan Pipit yang sedang berfoto untuk ikut berfoto juga karena latar belakang tempat mereka berfoto lumayan indah jadi tampaknya mereka tidak mau menyia – nyiakan kesempata yang ada, bahkan Orvel sampai buka baju dan menahan dingin yang merasuk ke tubuhnya hanya untuk di foto dengan gaya yang menurutnya cukup keren. Setelah berfoto – foto mereka pun kembali melakukan pekerjaan mereka yang belum selesai itu.

Malam itu Maro adalah orang yang pertama kali tidur karena angin yang tiada hentinya berhembus ke arah tenda sehingga membuat Maro yang hanya membawa pakaian seadanya langsung kedinginan dan memutuskan untuk langsung tidur saja dari pada tidak bisa menikmati acara yang ada karena harus menahan hembusan angin yang akan selalu menusuk – nusuk ke kulit. Sementara Fitra yang juga kedinginan karena membawa pakaian seadanya sama mendapat pinjaman jaket dari Yasin Z yang lumayan membantu untuk mengusir hawa dingin yang merasuk ke badan. Keesokan paginya puncak gunung Welirang tampak semakin jelas di depan mata dan pada pagi itu juga kami mengisi tempat – tempat air kami yang sudah berkurang sejak hari kedua menjadi penuh lagi di genangan air bekas sungai mati yang ditemukan oleh Emil sehari sebelumnya ketika ia dan Fitra mengecek jalur pada saat yang lainnya sedang mempersiapkan tempat berkemah.

Di hari yang ke lima ini, dimana Fitra menjadi parangman dan Emil yang menjadi kompasmannya sempat membuat Yasin W dan Satria yang berjalan paling belakang berjalan dengan jalur yang berbeda dengan yang lainnya karena jarak antara anggota tim yang berjauhan sehingga mereka mengalami sedikit kesulitan untuk mengikuti orang yang di depan mereka, dan yang menjadi penyebab itu semua adalah parangman dan kompasman yaitu Fitra dan Emil yang berjalan dengan kecepatan diatas rata – rata anggota tim yang lainnya dan jarang sekali istirahat.

Sempat ada kejadian lucu yang terjadi didalam perjalanan sebelum makan siang, dimana ketika Yasin Z yang sedang beristirahat tidur – tiduran di jalur yang ada batu besarnya dan bila dilihat dari belakang yang terlihat hanya sepatunya saja karena badannya terhalang oleh batu, ketika Desmon dan Orvel akan melintasi batu tersebut ( kira – kira10 meter di belakang batu ) Desmon mengira kakinya Yasin Z adalah babi hutan sehingga ia pun berkata kepada Orvel untuk hati – hati dan mengeluarkan golok, lalu Yasin Z pun bangun dan membuat Desmon dan Orvel yang agak ketakutan menjadi lega kembali.

Tempat camp pada hari kelima ini tidak jauh dari tempat makan siang yang berarti kami sudah ngecamp sekitar jam setengah empat ( makan siang jam 1 ), hal tersebut disebabkan karena sudah tidak ada lagi tempat yang memungkinkan untuk membangun tenda, dimana sebelumnya Fitra dan Emil ngecek dahulu ke atas. Pada hari ini Fitra membuktikan bahwa dirinya cukup kuat karena ia menjadi parangman seharian dan kompasmannya Emil, namun kalau Emil nampaknya tidak perlu dibuktikan lagi, bila tidak ada pembagian tugas mungkin ia akan selalu berjalan di paling depan selama perjalanan mendaki gunung Welirang.

Puncak Welirang sudah terasa dekat ketika kami memandangnya pada keesokan paginya yang juga menandakan kami sudah enam hari dalam perjalanan mendaki gunung Welirang. Melihat puncak yang sudah dekat itu membuat kami semua semangat untuk segera sampai ke puncaknya, ketika sudah sedikit lagi untuk mencapi puncak jalur yang kami lewati semakin terjal, dan hal tersebut menyebabkan Emil dan Pipit naik dahulu ke atas tanpa membawa carrier untuk mengecek apakah jalur tersebut dapat kami lewati atau tidak sementara kami hanya menunggu mereka dengan harapan membawa kabar baik, setelah mereka selesai ngecek jalur keatas ternyata kami tidak mendapatkan kabar baik dari mereka karena jalur tersebut tidak mungkin dilewati. Oleh karena itu Satria dan Yasin W kembali mengecek jalur dengan terlebih dahulu melipir ke arah kiri, setelah menunggu agak lama akhirnya mereka kembali juga dengan kabar yang lumayan melegakan, dimana jalurnya lebih landai dan lebih memungkinkan untuk mencapai ke puncak meskipun di atasnya lagi kami tidak mengetahui kondisinya.

Melipir sambil sedikit turun di daerah berbatu – batu kecil adalah jalur yang paling menyebalkan dimana batu – batu yang kita injak mudah tergelincir sehingga bisa membuat kita jatuh, dan jatuh di daerah berbatu – batu pastinya akan lebih berbahaya bila jatuh di daerah tidak berbatu. Dan hal itu sudah dialami oleh Maro, dimana ia sempat tergelincir sedikt ketika sedang melipir ke arah kiri, dan hal itu membuat ia semakin hati – hati dan berjalan semakin lama sehingga tertinggal dengan teman – temannya. Untunglah keadaan yang menyebalkan tidak berlangsung lama karena setelah melipir kira – kira empat puluh menit, jalur yang kami hadapi sudah kembali menanjak.

Karena tidak memungkin untuk memasak di jalur yang berbatu – batu itu, maka kami memutuskan hanya makan kue lapis dan buah saja sebagai pengganti makan siang kami. Setelah itu akhirnya kami pun sampai puncak setelah berjalan dua jam dari tempat makan siang. Bahagia, gembira dan senang dan lain sebagainya adalah perasaan kami semua ketika sudah sampai di puncak, dimana setelah menempuh perjalanan yang melelahkan selama enam hari akhirnya sampai juga kami semua satu tim di puncak gunung Welirang dengan keadaan sehat.

Setelah berfoto – foto kami pun melanjutkan perjalanan untuk menuju ke pondok Welirang dengan mengikuti jalur. Ketika sudah berjalan kira – kira tiga ratus meter, jalur yang harus kami lewati tertutup oleh gas belerang, karena itu satu – satunya jalur maka mau tidak mau kami harus melewati jalur tersebut, sebagian besar dari kami menutup hidung dan mulut dengan slayer sambil berlari melewati jalur tersebut sedangkan Orvel tidak menutup hidung dan mulutnya dengan slayer dan ia hanya berlari saja secepat – cepatnya, sedangkan Emil yang hanya mengandalkan menahan nafas ketika melewati jalur tersebut harus mundur kembali ketika sedang berada di tengah – tengah hembusan gas belerang dan menarik nafas dalam – dalam untuk kemudian berlari secepat – cepatnya untuk melewati daerah berbaha tersebut.

Setelah kira – kira satu setengah jam menuruni gunung Welirang dengan jalur yang curam dan berdebu akhirnya kami pun sampai juga di pondok Welirang, karena di daerah tersebut ramai sekali dan banyak rempakem, sehingga kami pun memutuskan untuk berjalan menuju ke lembah kijang sesuai anjuran Pipit, dan kami semuapun setuju karena waktu untuk menuju lembah kijang hanya lima menit yaitu di balik punggungan. Mendengar kata lima menit, maka kami semuapun langsung mengerahkan segenap tenaga untuk secepatnya sampai di lembah kijang dan beristirahat, namun jarak yang kami tempuh tidaklah sama dengan perkiraan kami, dan kami memperkirakan jarak tersebut cukup jauh dan kami sudah berjalan kira – kira dua puluh menit, dan hal tersebut membuat Desmon kecewa terhadap Pipit karena merasa sudah di tipu dan mulai tidak percaya lagi terhadap Pipit.

Malam ini adalah malam yang paling dingin dibandingkan dengan malam – malam sebelumnya karena kencangnya angin yang berhembus karena tempat camp kami berada di lembah dengan tanah lapang yang sangat luas sehingga angin dengan mudahnya membuat kami kedinginan.

16 Agustus 2004 yang berarti ini adalah hari keenam bagi tim MP GH berada di gunung, dan pada hari ini kami semua bersiap – siap untuk naik gunung Arjuna dengan sebelumnya mengisi sebagian dari tempat minum kami dengan air. Karena kami lewat jalur dan karena besok adalah tanggal 17 Agustus 2004 maka banyak orang yang ingin upacara di puncak sehingga banyak sekali rempaken yang naik ke gunung Arjuna. Berbeda sekali dengan kami, para rempakem masih terlihat bersih dan dengan gaya yang cukup berbeda dengan kami sedangkan kami sudah terlihat lusuh dan kotor karena sudah enam hari tidak mandi. Gaya mereka ada dari yang biasa saja sampai ada yang aneh yaitu ada yang memakai helm, dan merekapun naik ke puncak dengan perlengkapan yang seadanya saja.

Jarak antara orang cukup jauh, apalagi Emil dan Pipit yang berada di paling depan berada cukup jauh dengan kami semua. Dengan Maro saja yang orang ketiga sudah jauh, apalagi dengan orang terakhir. Setelah Emil dan Pipit sampai di puncak, disusul oleh Maro, Fitra, dan Orvel. Ketika sedang santai – santai di puncak sambil menikmati hembusan angin yang kencang serta dingin, tampak Yasin W sedang berjalan ke arah kami tanpa membawa carrier, kami yang melihat langsung curiga mungkin terjad sesuatu dengan yang lainnya. Setelah dijelaskan oleh Yasin W, ternyata ia datang untuk mengambil obat – obatan dan oxycan untuk membantu salah seorang pendaki yang sedang sakit, lalu Yasin W pun kembali sambil ditemani Orvel dan Emil untuk menolong orang yang sakit tersebut.

Maro, Pipit, dan Fitra sajalah yang akhirnya berdua di puncak menunggu yang lainnya datang sambil ngobrol dengan salah seorang pendaki. Setelah menunggu lama sekitar satu setengah jam maka Emil dan Orvel pun kembali ke puncak. Tak lama setelah Emil datang, tiba – tiba saja cuaca yang cerah berubah menjadi badai angin yang membuat kami yang berada di puncak kedinginan sehingga kamipun menutup diri kami dengan cover tenda untuk menghangatkan badan kami dari terpaan angin yang cukup kencang dan dingin.

Waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 ketika seluruh anggota tim sudah mencampai puncak, karena angin badai yang kencang dan dingin maka kami memutuskan hanya berfoto – foto tim MP saja tanpa ada foto – foto pribadi, setelah itupun kami langsung cepat – cepat turun tuk mencari tampat berkemah. Karena hari sudah mulai gelap dan kami pun belum menemukan lahan yang cukup luas untuk membuat dua tenda, maka kamipun memutuskan untuk ngecamp di jalur saja dan membuat satu tenda. Dengan satu tenda tentunya hanya muat empat orang sehingga yang lainnya tidur di luar sambil berjaga – jaga mengingat kami ngecamp di jalan dan besar kemungkinan barang – barang kami hilang bila tidak ada yang jaga.

Perencanaan ingin berniat upacara memperingati hari kemerdekaan RI di puncak gunung Arjuna jadi batal karena kami lebih cepat satu hari bila dilihat dari perencanaan, dimana seharusnya tanggal 17 kami naik gunung Arjuna dan siang harinya melaksanakan upacara di puncak, tapi sekarang kami berada sedikit dibawak puncak.

Kami berlari menuruni gunung Arjuna untuk segera sampai di desa terdekat agar secepatnya sampai di Impala dan beristirahat, namun kami tidak bisa berlari terlalu jauh karena kira – kira 500 m setelah berlari jalurnya sangat terjal sekali yang tidak lagi memungkinkan untuk berlari, jalanpun saja harus pelan – pelan. Sesampainya di pos 2 ada pemeriksaan oleh bagian perlindungan hutan yang memeriksa semua carrier kami, dan kami pun tidak terkena hukuman karena kami tidak mengambil apapun dari gunung Arjuna, namun ada salah satu rempakem yang terkena hukuman disuruh push up karena mengambil sesuatu dari gunung Arjuna.

Setelah makan siang di pos 2, kamipun melanjutkan perjalanan untuk menuju desa terdekat melewati kebun teh, setelah sampai di desa terdekat dan melewati pos 1 yang merupakan pos penjagaan pertama bagi orang – orang yang ingin naik dari gunung Arjuna, disana kami diminta untuk menunjukkan surat jalan kami dan mejelaskan dari mana asal kami, setelah menjelaskan kira – kira 10 menit kamipun sudah boleh pergi. Dengan naik ojek menuju jalan raya kamipun berangkat meninggalkan pos satu. Sesampainya di jalan raya kamipun mencarter mobil, dan sopir tersebut mengantarkan kami sampai depan sekret Impala. Di Impala kami bertemu dengan PA dari Aceh yang bernama Metalic, mereka datang bertujuan ingin mendaki gunung Semeru, namun karena gunung Semeru ditutup karena sedang aktif maka merekapun hanya naik gunung Arjuna dan Welirang saja.

Bau badan yang sudah lumayan menyengat membuat kami langsung mandi untuk menbersihkan badan. Karena kamar mandinya hanya satu maka kamipun ngantri dan ada pula yang mandi di Masjid. Setelah semuanya selesai mandi kami pun langsung makan, dan itu adalah makanan yang paling enak setelah seminggu di gunung dengan makan yang seadanya saja. Karena badan masih pegal – pegal kamipun langsung beristirahat dengan sebelumnya bercerita – cerita dengan anak Impala.

Setelah bangun keeseokan harinya, badan kami baru terasa pegalnya, dan akan terasa sakit bila berjalan di turunan. Rasa pegal itu baru hilang di hari ketiga setelah beristirahat yang cukup. Siang harinya Tri mengajak Maro, Yasin W dan Fitra untuk makan baso malang, kamipun memesan baso khas dari warung tersebut dimana ukuran basonya dua kali ukuran bola tenis. Maro dan Fitra pun tak kuat menahan rasa kenyangnya setelah tambah satu mangkok dan makan molen yang juga besar, sebenarnya mereka berdua masih kuat seandainya satu jam sebelumnya belum makan apapuan, jadi mereka itu makan baso satu jam setelah makan siang yang pastinya membuat mereka kewalahan menahan rasa kenyang.

Mengejar matahari adalah film yang kami tonton pada malam harinya bersama dengan Tri dan Indah, ceritanya sih lumayan tapi gambarnya sangatlah jelek, gambarnya saja goyang – goyang, dan itu adalah film indonesia yang gambarnya paling jelek dibandingkan dengan film – film lainnya.

Keesokan harinya hampir dari semua dari kami kecuali Emil pergi untuk makan baso karena penasaran oleh cerita dari Maro, Yasin W, dan Maro yang sedikit melebih – lebih kan mengenai baso yang mereka makan. Setelah makan baso mereka sedikit merasa kecewa karena merasa sedikit tertipu mengenai ukuran baso dan melon yang mereka makan, namun mereka tetap cukup puas makan baso tersebut.

Malam harinya kami pergi ke Malang Expo untuk jalan – jalan sambil menikmati suasana malam hari di kota Malang, ternyata tidak seperti perkiraan kami mengenai Malang Expo, karena kami memperkirakan itu adalah tempat pameran mengenai barang – barang khas Malang, tetapi disana hanyalah tempat berjualan biasa yang membuat kami langsung merasa bosan.

Tepat tanggal 20 Agustus 2004 pukul13.00 kamipun sudah meninggalkan Impala untuk kembali ke Depok, dengan dilepas oleh anak – anak Impala dan diantar Tri ke stasiun kereta api kamipun meninggalkan Bravo Tenda untuk segera menuju sekret tercinta kita. Seperti biasa kereta ekonomi yang kami naiki telat dua jam dari perencanaan yang seharusnya sampai jam delapan tapi kami sampai di stasiun Senen jam sepuluh, setelah dilanjutkan dengan naik bus ke arah depok dan berjalan kaki dari stasiun UI ke sekret KAPA, akhirnya kamipun sampai di sekret tercinta kami dengan disambut oleh anggota KAPA lainnya.